POJOKSATU.ID – Libur panjang Idulfitri baru saja usai. Aktivitas kembali berjalan seperti biasa, begitu pula di pasar saham. Namun, begitu perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka kembali pasar langsung diguncang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 9,19% ke level 5.912,06. Angka ini jauh di bawah penutupan terakhir sebelum libur, yaitu 6.510,62 pada 27 Maret 2025.

Bagi banyak investor, gejolak ini memicu kepanikan. Langkah penghentian sementara (trading halt) oleh BEI menjadi penanda betapa drastisnya tekanan yang dirasakan pasar. Namun, dalam dunia investasi, kondisi seperti ini bukan yang pertama—dan bukan yang terakhir.

Baca Juga: Satu Tahun Lebih Kasus Gratifikasi Mobil Mewah Belum Ada Tersangka, Mantan Dirkeu Diperiksa Pasca Penggeledahan

Dikutip melalui laman resmi BEI, gejolak kali ini dipicu oleh faktor eksternal yakni ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Kombinasi ini menciptakan suasana tidak menentu yang menguji ketahanan mental para investor.

BEI menilai, disaat seperti ini peran logika harus lebih dominan dibanding emosi. Pasar saham bergerak dalam siklus naik, turun, lalu naik kembali. Sejarah mencatat bahwa mereka yang tetap tenang dan konsisten dengan strategi jangka panjang biasanya keluar sebagai pemenang. Contohnya? Krisis global 2008 dan pandemi Covid-19 pada 2020. Keduanya sempat membuat pasar jatuh dalam, tapi kemudian bangkit dan bahkan mencetak rekor baru.

Menurut BEI, investor yang tenang bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Justru inilah saat terbaik untuk mengevaluasi portofolio, meninjau ulang tujuan, dan bahkan melihat peluang. Banyak saham berkualitas yang kini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Bagi investor jangka panjang, ini bisa menjadi kesempatan langka.

Baca Juga: Beasiswa BCA 2026 RESMI DIBUKA, Kuliah Gratis, Laptop Gratis, Uang Saku, Hingga Peluang Karier di Perbankan, Begini Syarat Daftar dan TAHAP SELEKSI

Namun hati-hati, jangan biarkan emosi mengambil alih. Bias psikologis seperti fear of missing out (FOMO), loss aversion, overconfidence, hingga herd mentality seringkali menyesatkan keputusan. Konsultasi dengan perencana keuangan bisa menjadi langkah bijak di tengah ketidakpastian ini.

Volatilitas memang tidak bisa dihindari. Tapi dengan logika, ketenangan, dan strategi yang tepat, badai ini bukan akhir dari perjalanan investasi—melainkan awal dari peluang baru.***