POJOKSATU.id - Teka-teki dan misteri mutilasi mahasiswa UMY yang dilakukan Waliyin dan RD masih belum sepenuhnya terungkap.

Meskipun polisi saat ini sudah menangkap warga Magelang berusia 29 tahun dan warga DKI Jakarta berusia 38 tahun itu.

Waliyin dan RD ditangkap polisi saat keduanya melarikan diri dan bersebunyi di Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga: Kisah Gadis 21 Tahun Selamat dari Perampokan Gegara Foto Jin BTS Berseragam Militer di Casing Ponselnya

Keduanya langsung dibawa ke Polda DIJ untuk menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik.

Kasus ini sendiri ditangani penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIJ.

Kendati demikian, satu per satu fakta sudah didapatkan polisi.

Baca Juga: Bukan KDRT dan Masalah Ekonomi, Ini Alasan Shandy Aulia Bercerai Dengan David Herbowo

Baik berdasarkan keterangan dan pengakuan kedua pelaku, maupun dari berbagai barang bukti yang sudah diamankan.

Salah satu fakta terungkap adalah pemicu Waliyin dan RD mutilasi mahasiswa UMY Redho Tri Agustian.

Sebelumnya, mahasiswa UMY itu dilaporkan hilang oleh keluarganya ke Polsek Kasihan, Bantul.

Baca Juga: Hasil Korea Open 2023 Hari Ini: Dejan/Gloria Singkirkan Wakil Taiwan

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mendapat informasi bahwa Redho terakhir kali terlihat pada Selasa, 11 Juli 2023 dini hari.

Sejak saat itu, Redho sama sekali tidak pernah kembali ke tempat kos-nya.

Sementara, penemuan sebagian potongan tubuh korban mutilasi itu terjadi sehari setelahnya.

 

Berkenalan di Facebook

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes FX Endriadi mengungkap, mutilasi mahasiswa UMY itu bermula dari perkenalan di media sosial.

Baca Juga: Olah TKP Kebakaran Gedung K Link Tower, Sejumlah Barang Bukti Diteliti Labfor

Endriadi menyatakan, korban dan pelaku adalah anggota sebuah komunitas yang memiliki grup media sosial Facebook.

Disebutkan bahwa bahwa komunitas itu melakukan aktivitas tidak wajar.

Sayangnya, tidak dijelaskan secara jelas dan detil soal 'aktivitas tidak wajar' tersebut.

Baca Juga: Bawa Ganja di Koper saat Liburan di Pulau Cayman, Supermodel Gigi Hadid Ditangkap

Karena sama-sama menjadi anggota komunitas tersebut, Redho, Waliyin dan RD akhirnya kerap berinteraksi.

Interaksi yang cukup sering dan intens itu pula yang kemudian mengawali ketiganya saling berkenalan.

Endriadi menerangkan, perkenalan antara Redho, Waliyin dan RD terjadi sekitar 3 bulan sebelumnya.

Baca Juga: Budyanto Jauhari Ngaku Khilaf soalnya Habis Nyabu, Pakai Ngancam Bunuh tapi Masih juga Bikin Pembelaan

Sejak saat itu, korban dan kedua pelaku semakin intens berkomunikasi satu sama lainnya.

Dari komunikasi itens dan perkenalan itu, ketiganya lantas sepakat untuk melakukan pertemuan alias kopi darat.

Hal itu dimulai oleh Waliyin yang mengundang RD datang ke Jogjakarta.

Baca Juga: Durian Baret

Undangan itu lantas disanggupi RD yang merupakan warga DKI Jakarta.

Tujuan dari undangan Waliyin ke Jogjakarta itu tidak lain adalah juga untuk bertemu dengan Redho.

 

'Aktivitas Tidak Wajar' Bertiga

Setibanya di Jogjakarta, RD langsung dijemput oleh Waliyin.

Baca Juga: Anjal-Gepeng di Kota Serang Sulit Dihilangkan, Toyalis: Memang Mentalnya Seperti Itu

RD kemudian diajak menginap di tempat kos Waliyin di Dusun Krapyak, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman.

Selanjutnya, korban dan kedua pelaku disebut Endriadi melakukan aktivitas tidak wajar sebagaimana ia maksud sebelumnya.

Disebutkan bahwa hal itu dilakukan secara bersama-sama.

Baca Juga: Mengaku Cocok, Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko Pertemuan Tertutup 2 Jam dengan Prabowo

Akan tetapi tidak dijelaskan apakah aktivitas tersebut dilakukan di tempat kos Waliyin atau di lokasi lain.

Untuk diketahui, Kombes Endriadi mengungkap bahwa aktivitas tidak wajar itu merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kekerasan.

Entah bagaimana ceritanya, kekerasan itu ternyata dilakukan secara berlebihan.

Baca Juga: Jadwal Korea Open 2023 Hari Ini 19 Juli: 5 Wakil Indonesia Unjuk Gigi

Akibat aktivitas tidak wajar itu pula yang akhirnya membuat Redho Tri Agustian meninggal dunia.

"Mereka (korban dan pelaku) melakukan kegiatan berupa kekerasan satu sama lain dan terjadi berlebihan," ungkap Endriadi, Selasa 18 Juli 2023.

Melihat Redho tidak bernyawa, Waliyin dan RD langsung panik.

Baca Juga: Gabung Bayern Munich, Kim Minjae Janjikan Banyak Trofi

Waliyin dan RD kemudian bersepakat dan memutuskan untuk menghilangkan jejak peristiwa di malam kejadian itu.

Agar tidak bisa dideteksi sekaligus menyulitkan polisi dan diketahui orang lain.

Kedua pelaku akhirnya memutuskan untuk memotong-motong tubuh korban.

Baca Juga: Usai Bocorkan Video Jimin dan Jungkook di AS, Perusahaan dan Kapten Kapal Pesiar Hapus Akun Media Sosial

Hal pertama yang dilakukan pelaku adalah dengan memotong bagian kepala, pergelangan tangan dan kaki.

Selanjutnya, Waliyin dan RD juga memotong bagian tubuh lainnya mahasiswa UMY itu.

Tidak hanya memotong. Kedua pelaku juga merebus bagian tubuh korban.

Baca Juga: Daftar Pemain Top Dunia Pindah ke Liga Arab Saudi, Kompatriot Ronaldo Paling Mahal

Merebus tubuh korban itu dilakukan untuk menghilangkan identitas korban, yakni berupa sidik jari.

"Untuk menghilangkan jejaknya, terhadap pergelangan tangan dan pergelangan kaki, pelaku merebusnya untuk menghilangkan sidik jarinya," beber Endriadi.

Sayangnya, masih belum ada penjelasan lebih lanjut dan detil soal kasus mutilasi mahasiwa UMY ini.***