POJOKSATU.ID - Kebakaran hebat yang melumat Gedung Terra Drone di Kemayoran, Selasa 9 Desember 2025, meninggalkan duka mendalam sekaligus kemarahan publik.

Hingga laporan terakhir, 22 orang dilaporkan tewas dalam tragedi yang diduga kuat dipicu minimnya aspek keselamatan gedung dan tidak adanya jalur evakuasi memadai.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro menegaskan pihaknya.

Telah melakukan serangkaian langkah proaktif, termasuk memeriksa pemilik kantor Terra Drone.

Baca Juga: Data Terbaru Korban Bencana Sumatera Hari ke-15, 964 Orang Meninggal, 293 Masih Hilang

Pemeriksaan ini dilakukan setelah berbagai indikasi muncul bahwa operasional gedung tersebut tidak sepenuhnya memenuhi standar keselamatan.

“Ya ini, kami secara proaktif, akan kami lakukan pemeriksaan di Polres,” ujar Susatyo, dikutip dari CNN, 9 Desember 2025.

Pernyataan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada penyebab kebakaran semata, tetapi melebar ke kemungkinan kelalaian fatal pihak pengelola gedung.

Polisi juga telah memanggil sejumlah orang untuk dimintai keterangan, termasuk saksi-saksi kunci dan pihak yang bertanggung jawab atas manajemen bangunan.

Baca Juga: Di Tengah Derita Banjir Rakyat Aceh, Mualem Ungkap Ada Bupati Lari ke Medan Cari Hiburan Karaokean

Salah satu anggota kepolisian, Kapolsek Kemayoran, turut menjadi korban luka akibat proses evakuasi yang berlangsung dramatis.

“Kapolsek terluka di bagian tangan dan saat ini sedang ditangani,” kata Susatyo.

Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung ikut angkat bicara dan melayangkan kritik keras kepada seluruh pemilik usaha di Jakarta.

Ia menyatakan banyak gedung, terutama bangunan bertingkat dengan kapasitas besar yang tidak memiliki persiapan jalur evakuasi memadai.

Kasus kebakaran Terra Drone dinilai sebagai bukti nyata bahwa standar keselamatan di ibu kota masih jauh dari layak.

“Kalau ada gedung lantai 6 sebenarnya apa pemadam kebakarannya ada, tetapi untuk kasus seperti ini, mereka tidak persiapkan sama sekali,” tegas Pramono.

Ucapan ini menambah panjang daftar pertanyaan publik, bagaimana mungkin sebuah gedung besar yang beroperasi di jantung Jakarta tidak memiliki rencana evakuasi dasar?

Kebakaran yang melanda gedung tersebut terjadi begitu cepat, menyapu area dan menjebak puluhan orang di dalamnya.

Baca Juga: Imbas Tudingan Terlibat dengan Anggota Geng Kriminal, Komedian Cho Sae Ho Mundur dari Semua Program, Bantah Rumor dan Minta Maaf ke Publik

Proses evakuasi berlangsung kacau, dengan banyak korban diduga terjebak tanpa akses keluar.

Kejadian ini kembali membuka luka lama, lemahnya pengawasan pemerintah terhadap standar keselamatan bangunan di Jakarta.

Meski kota ini berkali-kali dihantam insiden serupa.

Jenazah puluhan korban kini telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.

Baca Juga: Kabar KENAIKAN GAJI ASN Jangan Jadi PHP, Kemenkeu Beberkan KLARIFIKASI Ini, Ekspektasi Berlebihan Perpres 79 Tahun 2025, Tidak Semudah Itu Fergusso!

Suasana duka memenuhi area rumah sakit ketika keluarga korban berdatangan, mencari kepastian mengenai orang-orang tercinta yang masih belum diketahui nasibnya.

Setiap menit menjadi penantian penuh kecemasan.

Tragedi Terra Drone menjadi tamparan keras bagi Jakarta.

Publik kembali mempertanyakan keseriusan pemerintah dan aparat dalam mengawasi standar keselamatan gedung.

Terutama di tengah maraknya kebakaran fatal dalam beberapa tahun terakhir.

Pemeriksaan terhadap pemilik gedung menjadi langkah awal.

Tetapi pertanggungjawaban penuh harus ditegakkan agar kejadian seperti ini tidak kembali merenggut nyawa warga.***