POJOKSATU.ID - Katanya sih air pegunungan segar, alami, dan murni dari sumber terbaik.
Tapi siapa sangka, sebagian besar air minum dalam kemasan (AMDK) yang kita konsumsi setiap hari ternyata berasal dari bawah tanah, hasil pengeboran ratusan meter di perut bumi.
Fakta itu terungkap dalam rapat Komisi VII DPR RI yang memanggil sejumlah produsen air kemasan ternama untuk menjawab pertanyaan sederhana Sebenarnya, dari mana air mereka berasal?
Pertanyaan sederhana ini ternyata mengguncang kepercayaan jutaan konsumen Indonesia yang selama ini percaya pada narasi air pegunungan alami.
Di balik label biru bergambar gunung, ada cerita lain yang jauh lebih dalam—secara harfiah.
Air Pegunungan atau Air Hasil Bor?
Dalam rapat tersebut, berbagai perusahaan besar hadir membawa versi cerita masing-masing.
PT Tirta Investama, produsen merek AQUA, menegaskan bahwa air mereka tetap bersumber dari pegunungan.
Baca Juga: Jelang Hari Guru, Tunjangan 101.786 Guru Agama Lulus PPG Naik, Non-ASN Terima Rp2 Juta Mulai 2026
Hanya saja, untuk menjangkaunya kini dibutuhkan bantuan mesin bor dalam karena aliran alami sudah tidak lagi cukup.
Air yang dulunya mengalir dari mata air kini harus diekstraksi dari lapisan batuan melalui pengeboran.
Pertanyaannya, apakah itu masih bisa disebut air pegunungan?
Baca Juga: Libatkan Komunitas Lewat Kongko, Bappeda Depok Mulai Susun Rencana Pembangunan 2027
Sementara itu, PT Panfila Indosari, produsen RON 88, tampil lebih jujur.
Mereka menyebut airnya memang diambil dari celah batuan di kaki Gunung Mandalawangi, tanpa proses pengeboran.
Begitu juga PT Amidis Tirta Mulia yang memilih transparansi mereka tidak pernah mengklaim airnya berasal dari gunung karena memang murni hasil proses destilasi air murni karena teknologi, bukan karena alam.
Gunung atau Sumur Dalam? Semua Punya Versi Sendiri
Menariknya, PT Tirta Fresindo Jaya, pembuat Le Minerale, menyebut sumber air mereka berasal dari kedalaman 80–120 meter di bawah tanah.
Baca Juga: Latihan Analisis Soal: Trik Mengidentifikasi Pola dalam Tes Kemampuan Akademik
Meski begitu, mereka tetap mengaitkan sumbernya dengan daerah resapan di dataran tinggi agar terkesan alami.
Berbeda dengan PT Muawanah Al Ma’soem, produsen Al Ma’soem, yang memanfaatkan mata air alami Gunung Manglayang.
Sedangkan PT Super Wahana Tehno, pembuat Pristine, mengambil air dari kawasan Gunung Pangrango.
Dua merek lain, Cleo dan Le Yasmin, menggunakan air dari sumur dalam, tetapi tetap memasarkan produknya dengan sentuhan kata alami dan pegunungan.
Akhirnya, semua punya definisi sendiri tentang apa itu air pegunungan.
Label air pegunungan kini terasa seperti istilah fleksibel yang bisa dibengkokkan sesuai kebutuhan promosi.
Yang penting terdengar sejuk, menenangkan, dan berkesan alami di telinga konsumen.
Padahal, banyak yang justru menggunakan air bawah tanah yang diambil lewat mesin bor, bukan mata air alami yang mengalir dari lereng gunung.
Baca Juga: Hilang Tanpa Jejak, Orang Tua Maria Gabriella Siswi St Thomas Aquino Karawaci Ingin Anaknya Kembali
Komisi VII DPR RI menyoroti pentingnya kejujuran dan transparansi dalam pelabelan.
Masyarakat berhak tahu asal usul air yang mereka minum setiap hari.
Karena di balik setiap botol, ada proses panjang: dari izin eksplorasi sumber air, pengambilan dengan teknologi modern, hingga pengemasan yang dibalut narasi pemasaran berlapis-lapis.
Baca Juga: Libatkan Komunitas Lewat Kongko, Bappeda Depok Mulai Susun Rencana Pembangunan 2027
Publik kini mulai sadar bahwa “air murni” tidak selalu sesederhana yang digambarkan di iklan.
Ada yang benar-benar dari pegunungan, ada pula yang murni karena proses penyulingan teknologi tinggi.
Semuanya sah selama jujur.
Yang jadi persoalan adalah ketika label dan realitas tidak sejalan—saat air bawah tanah dijual dengan embel-embel kesejukan gunung.
Rapat di Senayan bukan hanya soal teknis perizinan, tetapi juga tentang kejujuran industri.
Masyarakat berhak mendapatkan kejelasan, bukan hanya ketenangan di tenggorokan tetapi juga ketenangan hati bahwa apa yang diminum memang sesuai klaim.
Airnya mungkin murni. Tapi ceritanya? Jelas tidak semurni yang dikira.***




