POJOKSATU.id, JAKARTA — Terpaut usia 24 tahun, Rahmi sempat ragu menerima lamaran Bung Hatta sang Proklamator. Teman karibnya, Soekarno lah yang menyampaikan lamaran itu ke orang tua Rahmi.
Saat Soekarno menyampaikan lamaran Bung Hatta ke orang tua Rahmi, usia Mohammad Hatta Sang Proklamator saat itu sudah 43 tahun. Sementara Rahmi masih berusia 19 tahun.
Soekarno datang ke rumah orang tua Rahmi di Jalan Burgemeester Coopweg 11, Kota Bandung (kini Jalan Pajajaran).
Sebelum melamar Rahmi, Soekarno sempat menanya ke orang tua Rahmi siapa gadis tercantik di Kota Bandung.
Namun orang tua Rahmi saat itu tak menyangka anak mereka Rahmi lah yang dimaksud Soekarno.
Baca Juga :
Misteri Soekarno Menikah dengan Nyi Roro Kidul, Ada Yang Percaya Ada Juga Tidak
"Siapa gadis tercantik di Bandung?,” tanya Bung Karno ke orang tua Rahmi sebelum Proklamasi Kemerdekaan.
"Siapa ya? Olek, putri Ibu Dewi Sartika. Meta Sam Joedo, putra dokter terkenal di Bandung. Mieke, yang masih kerabat dokter Sam Joedo. Kenapa? Ada apa, Mas? Kok tanya-tanya tentang gadis cantik," jawab orang tua Rahmi dalam suatu perbincangan dengan Bung Karno.
"Ah, tidak apa-apa. Tanya-tanya kan tidak salah," kata Bung Karno.
Beberapa waktu kemudian, sesudah kemerdekaan, Soekarno datang lagi ke rumah orang tua Rahmi. Kali ini bersama dokter pribadinya, dr Soeharto.
Hari telah larut malam. Sang tuan rumah terheran-heran.
Sebelum membukakan pintu, Nyonya Rachim, ibu Rahmi, meminta dua putrinya, Rahmi dan Raharty, masuk ke kamar.
Serdadu Jepang masih berkeliaran meski mereka telah menyerah kepada Sekutu.
"Begini, saya datang mau melamar," kata Soekarno sebagaimana dikutip Ny HSSA Rachim dalam buku ‘Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan’.
"Melamar siapa?"
"Melamar Rahmi."
"Untuk siapa?"
"Untuk teman saya, Hatta."
Nyonya Rachim membatin, Hatta bukan sosok sembarangan. Bersama Soekarno, Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
“Mas Karno, mengenai lamaran ini, saya harus menanyakan kepada anak saya dulu. Ia berusia 19 tahun, sehingga saya anggap dia sudah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri.”
Nyonya Rachim masuk ke rumah. "Siapa yang datang, Mam?" ujar Rahmi ketika Nyonya Rachim masuk ke kamarnya.
"Bung Karno. Dia datang untuk melamar kamu."
"Melamar saya? Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?"
"Ini bukan mahasiswa. Dia orang baik. Mohammad Hatta."
Raharty nyeletuk, "Jangan mau, Yuke, dia sudah tua." Yuke adalah panggilan untuk Rahmi.
Rahmi ragu-ragu dengan lamaran itu. Dia pun diajak berjumpa Sukarno.
"Oom, saya merasa takut," ujarnya.
"Takut apa?" kata Sukarno.
"Saya ini orang bodoh, dia terlalu pandai," kata Rahmi.
"Tidak apa-apa. Pokoknya dia orang baik, pemimpin yang baik. Dia sahabat saya yang baik. Kamu tidak akan kecewa sebab Hatta adalah orang yang berbudi luhur dan mempunyai prinsip yang tegas."
Rahmi pun akhirnya setuju menikah dengan Hatta. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, Bogor.
Hatta memiliki villa di sana, pemberian pemerintahan militer Jepang. Soekarno menjadi saksi pernikahan.
Bukan emas atau peralatan salat sebagai mas kawin. Hatta memberikan buku Alam Pikiran Yunani selaku mahar.
Semula, bahan dasar buku ini merupakan materi kursus Bung Hatta untuk sesama tahanan politik di Digul dan Banda Neira.
Pertemuan Pertama Rahmi dan Hatta
Hatta pertama kali bertemu Rahmi pada pertengahan 1943. Saat itu, acara santap malam digelar di rumah Mr Sartono di Jatinegara, Jakarta.
Para aktivis politik datang, juga kerabat dan kenalan Soekarno, pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI).
Mr Sartono, pengacara dan kolega di PNI memberikan kesempatan kepada kerabat untuk mengucapkan selamat ke Bung Karno. Sebab Soekarno baru pulang dari pengasingan di Bengkulu.
Pemerintahan militer Jepang membebaskannya.
Soekarno didampingi istrinya, Inggit Garnasih. Hadir juga suami istri, Rachim dan HSAA Rachim. Pasangan ini membawa dua anak perempuan mereka: Rahmi yang saat itu 17 tahun, dan Raharty yang saat itu 14 tahun.
Bung Hatta juga hadir di rumah Mr Sartono di Jatinegara. (ikror/pojoksatu)



.webp)
