POJOKSATU.id – Label “air pegunungan alami” yang sering kita baca di kemasan air minum dalam botol ternyata tak selalu sesuai dengan kenyataan.

Dari hasil rapat Komisi VII DPR RI dan laporan sejumlah media nasional.

Terungkap bahwa beberapa perusahaan air minum besar di Indonesia ternyata menggunakan sumur bor dalam, bukan dari mata air permukaan.

Baca Juga: 8 Perusahaan Air Minum Indonesia Akhirnya Ungkap Asal Sumber Airnya!

Sebagian produsen memang jujur menyebut sumber airnya, namun ada juga yang memilih diam hingga akhirnya DPR turun tangan meminta transparansi penuh.

 

Dua Dunia Industri Air Minum

Isu ini menciptakan dua kelompok besar di industri air minum.

Baca Juga: Tak Hanya Bikin Sehat, Ini 10 Manfaat Jogging yang Bikin Tubuh dan Otak Makin Aktif!

Kelompok air pegunungan alami yang benar-benar menimba dari sumber mata air di gunung, dan

Kelompok air sumur bor yang mengambil air dari bawah tanah di kawasan kaki gunung.

Keduanya legal, tapi cara pengambilan airnya berbeda  dan itu berpengaruh pada ekologi dan persepsi konsumen.

 Baca Juga: Puluhan Reklame Ilegal di Tangsel Ditertibkan Satpol PP, Pemilik Dapat Sanksi Tipiring

Perusahaan dengan Sumber Air Pegunungan

1. Aqua (PT Tirta Investama / Danone Indonesia)

Aqua mengaku mengambil air dari 19 titik di sistem pegunungan, mulai dari Salak, Pangrango, hingga Bromo.

Peneliti dari UGM menegaskan bahwa isotop air Aqua memiliki “DNA geologis” khas air pegunungan.

Baca Juga: Puluhan Reklame Ilegal di Tangsel Ditertibkan Satpol PP, Pemilik Dapat Sanksi Tipiring

Namun, di beberapa lokasi, sumbernya tetap diambil lewat sistem akuifer dalam yang terhubung ke pegunungan.

 

2. Pristine (PT Super Wahana Tehno)

Sumber airnya berasal dari Gunung Pangrango, Jawa Barat. Perusahaan ini dikenal mengandalkan proses filtrasi alami dari batuan vulkanik.

 

3. RON 88 (PT Panfila Indosari)

Baca Juga: 8 Perusahaan Air Minum Indonesia Akhirnya Ungkap Asal Sumber Airnya!

Mengambil air dari kawasan Mandalawangi, Pandeglang, di kaki Gunung Karang. Lokasi ini dikonfirmasi langsung dalam rapat DPR RI sebagai mata air alami.

 

4. Al Masoem Water

Menyebut sumbernya dari Cileunyi, Kabupaten Bandung, yang merupakan kawasan perbukitan dengan mata air aktif.

Keempat merek ini termasuk dalam kelompok yang menggunakan air dari sistem hidrogeologi pegunungan, dengan karakteristik air permukaan alami dan mineral murni.

 

Perusahaan yang Gunakan Sumur Bor / Air Tanah Dalam

1. Aqua (Beberapa lokasi produksi)

Baca Juga: Angsa Hitam

Di beberapa wilayah seperti Klaten dan Cianjur, Aqua menggunakan sumur bor dalam untuk mengambil air dari akuifer tertutup di bawah pegunungan.

Meski disebut “air pegunungan”, teknisnya diambil melalui sumur bor vertikal.

2. Le Minerale (PT Tirta Fresindo Jaya / Mayora Group)

Mengambil air dari kaki Gunung Salak dan Gunung Gede, namun dokumen AMDAL menunjukkan izin pengambilan air tanah dalam.

Baca Juga: Puluhan Reklame Ilegal di Tangsel Ditertibkan Satpol PP, Pemilik Dapat Sanksi Tipiring

Artinya, sumbernya bukan mata air permukaan, melainkan sumur bor di bawah tanah.

 

3. Club (Wings Group)

Menggunakan sistem deep groundwater well di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Labelnya hanya mencantumkan “air minum dalam kemasan”, tanpa menyebut asal pegunungan.

Baca Juga: Siap Jadi Mahasiswa Universitas Garut? Inilah Lingkungan Belajar yang Bikin Betah di UNIGA

4. Cleo (PT Sariguna Primatirta Tbk)

Meskipun mengklaim dari “pegunungan”, laporan ESDM menunjukkan penggunaan air tanah dalam dari sumur bor di beberapa pabrik Jawa Timur.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat penurunan debit mata air hingga 20% di Pandeglang dan Cianjur, wilayah yang juga menjadi lokasi pabrik air minum besar.

Aktivitas industri AMDK dinilai berpotensi mengubah keseimbangan ekosistem air di sekitar gunung.

Baca Juga: 8 Perusahaan Air Minum Indonesia Akhirnya Ungkap Asal Sumber Airnya!

Sementara itu, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan DPR menegaskan perlunya pelabelan yang jujur.

Konsumen berhak tahu apakah air yang diminum benar-benar dari mata air alami atau dari sumur bor dalam.

 

Bisnis Triliunan, Tapi Keterbukaan Masih Rendah

Baca Juga: Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Ditanggapi Positif Pengguna Facebook Tiktok dan You Tube

Menurut data Statista 2025, industri air minum dalam kemasan Indonesia bernilai sekitar Rp30 triliun per tahun. Namun, transparansi sumber air masih minim.

Label “pegunungan alami” lebih sering dijadikan alat pemasaran ketimbang keterangan faktual.

Pemerintah kini tengah menyiapkan audit nasional sumber air industri.

Baca Juga: Pasar Serpong Kini Tampil Rapi dan Tertata Rapi, Tak Lagi Semrawut

Kementerian ESDM juga mengkaji ulang izin eksploitasi air tanah, terutama bagi perusahaan yang belum terbuka.

Air minum bukan sekadar produk industri  ia adalah sumber kehidupan yang seharusnya dikelola dengan tanggung jawab.

Keterbukaan menjadi kunci apakah air yang kita minum berasal dari mata air murni di gunung, atau dari sumur bor yang tersembunyi di bawahnya.***