POJOKSATU.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang menyusun langkah lanjutan untuk memperluas penerapan tarif terintegrasi pada layanan Transjabodetabek.
Kebijakan ini disiapkan guna memperkuat keterhubungan antartransportasi umum sehingga mobilitas masyarakat di Jakarta dan kawasan penyangga menjadi lebih mudah.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menyampaikan bahwa sistem tarif yang tengah dirancang akan mengintegrasikan perjalanan Transjabodetabek dengan berbagai moda transportasi massal lainnya, termasuk Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.
Melalui skema tersebut, penumpang yang melakukan perjalanan dengan menggunakan lebih dari satu moda transportasi hanya akan dikenakan tarif maksimum sebesar Rp10.000.
Tarif terpadu itu berlaku dalam rentang waktu tiga jam dan dapat diakses menggunakan aplikasi JakLingko.
Menurut Budi, nominal Rp10.000 bukanlah tarif tambahan untuk setiap moda, melainkan batas tertinggi biaya perjalanan yang dibayarkan pengguna saat berpindah dan memanfaatkan beberapa layanan transportasi yang telah terhubung dalam satu sistem.
Baca Juga: Babinsa Batujaya Turun ke Sawah, Dampingi Petani Panen Padi di Pakisjaya
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Pemprov DKI Jakarta juga mengalokasikan subsidi bagi pengguna Transjabodetabek.
Pada tahun 2026, besaran subsidi diperkirakan mencapai sekitar Rp12.000 per penumpang dengan total anggaran yang disiapkan mencapai Rp400 miliar.
Sebelum kebijakan tarif terpadu diberlakukan secara menyeluruh, Dishub DKI Jakarta bersama sejumlah instansi terkait akan terlebih dahulu menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung untuk memastikan layanan berjalan optimal.
Perbaikan yang menjadi prioritas antara lain meningkatkan ketepatan jadwal keberangkatan armada agar perjalanan masyarakat lebih terukur dan waktu tempuh dapat dipersingkat.
Pemerintah juga merencanakan integrasi antara titik pemberhentian Transjabodetabek dengan halte maupun stasiun transportasi umum yang berada di sekitarnya.
Upaya ini dilakukan untuk memudahkan penumpang saat berganti moda dalam satu perjalanan.
Di samping itu, opsi penyediaan layanan feeder melalui armada Mikrotrans masih terus dikaji.
Kehadiran rute penghubung tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menjangkau jaringan transportasi utama dengan lebih mudah, baik dari lokasi keberangkatan maupun menuju tujuan akhir.
Melalui penerapan tarif yang terintegrasi serta konektivitas antarmoda yang semakin kuat, Pemprov DKI Jakarta menargetkan minat masyarakat menggunakan transportasi umum terus meningkat sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang secara bertahap.***




