POJOKSATU.id — Banyak kisah Presiden kedua RI Soeharto yang tak dipublikasikan terbuka di zamannya membuat kaget dan kagum, salah satunya blusukan sampai menginap di rumah warga.

Kegiatan blusukan bukanlah hal baru dalam kehidupan Presiden Indonesia walau istilah blusukan ini kembali muncul dan mendapat tempat di publik saat era Presiden Joko Widodo periode 2014-2019 dan 2019-2024.

Jauh hari sebelum Joko Widodo atau Jokowi melakukan itu, ternyata Presiden kedua RI Soeharto sudah melakukannya.

Bedanya blusukan yang dilakukan Soeharto dilakukan dengan silent atau diam, sementara di era Jokowi ini lebih cenderung sengaja dipublikasikan ke publik.

Lepas dari prokontra di pemerintahan Soeharto lebih kurang 32 tahun, lelaki Jawa bertitel Jenderal Besar ini tetap banyak dikagumi masyarakat walau telah meninggal tahun 2008 lalu.

Baca Juga :

Kisah Presiden Soeharto Tembus Medan Perang Bosnia : Itu Rompi Antipeluru Kamu Jinjing Saja

Berikut sebagian kisah blusukan Presiden Soeharto di era pemerintahannya antara 1967 hingga 1998 lalu.

Wartawan senior Alwi Shahab merawikan kisah blusukan Pak Harto ke sejumlah daerah untuk berbicara langsung dengan rakyat.

Pada pertengahan 1970-an, Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam atau penyamaran ke desa-desa.

Blusukan ini dilakukan secara rahasia, dengan menggunakan mobil jip, bukan mobil kepresidenan. Jip yang digunakan Toyota Hardtop yang populer ketika itu dan dapat masuk ke pelosok-pelosok desa.

Rombongan Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan, termasuk ajudan dan pengawal presiden.

Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri, apalagi pejabat daerah setempat.

Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog.

Begitu rahasianya kunjungan itu sehingga wartawan Antara, Pattirajawane, yang ketika itu bertugas di Istana, diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Sekretariat Negara, Dwipayana.

"Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto," kata Pattirajawane menirukan kata-kata Pak Dipo.

Dia juga mengingatkan, perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu, juga istri dan kantor tidak boleh tahu.

Kesaksian yang sama juga disampaikan mantan Wapres Try Sutrisno yang menjabat antara 1993 hingga 1998 ini.

Sebelum menjabat Wapres, Try Sutrisno pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1974.

Suatu ketika, Soeharto tiba-tiba memerintahkan Try untuk menyiapkan mobil dan pengamanan seperlunya.

"Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak perlu memberitahu siapa pun," perintah Soeharto, seperti dikenang Try Sutrisno dalam buku Soeharto: The Untold Story.

Rupanya, Soeharto ingin blusukan atau perjalanan diam-diam menemui masyarakat.

Perjalanan rahasia itu berlangsung selama dua pekan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Seperti namanya, rahasia, hanya Try, Komandan Paspampres Kolonel Munawar, Komandan Pengawal, satu ajudan, Dokter Mardjono, dan mekanik Biyanto yang mengurus kendaraan yang turut serta dalam perjalanan itu.

Di luar rombongan itu, hanya Ketua G-I/S Intel Hankam Mayjen TNI Benny Moerdani yang mengetahuinya.

Panglima ABRI saat itu bahkan tidak tahu bahwa Presiden sedang berkeliling dengan pengamanan seadanya ke sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Saat itu, Indonesia memasuki tahap Pelita (Pembangunan Lima Tahun) II. Oleh karenanya, Soeharto merasa harus turun langsung memantau jalannya program-program pemerintah.

Dengan melakukan perjalanan rahasia, Soeharto dapat melihat kondisi desa secara apa adanya. Ia juga bisa mendapat masukan langsung dari masyarakat.

Demi menjaga kerahasiaan perjalanan, rombongan Soeharto bahkan menginap di rumah warga dan makan berbekal sambal teri, juga tempe.

"Kami tidak pernah makan di restoran, menginap di rumah kepala desa atau rumah-rumah penduduk," kata Try dalam buku itu.

"Untuk urusan logistik, selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien membekali sambal teri dan kering tempe. Benar-benar prihatin saat itu," tuturnya.

Meski pejalanan itu sudah berusaha ditutup rapat, kedatangan Presiden ke suatu desa akhirnya bocor juga dan sampai ke telinga pejabat setempat.

Para pejabat daerah pun geger, bahkan memarahi Try karena tidak diberi kesempatan menyambut Presiden.

Namun, karena perjalanan rahasia ini keinginan Soeharto, Try tak bisa berbuat banyak.

Try yang kemudian hari menjadi wakil presiden ini pun melihat Soeharto begitu menikmati perjalanan keluar masuk desa.

Semua hal yang ditemui di lapangan dicatat Soeharto untuk jadi bahan dalam rapat kabinet.(ikror/pojoksatu)