POJOKSATU.ID - Tangis beberapa guru honorer pecah saat mereka menceritakan kondisi hidup yang harus dijalani hingga saat ini.
Di balik status sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kenyataan pahit masih menjadi bagian dari keseharian para guru honorer yang belum mendapatkan kepastian kesejahteraan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa upah yang diterima guru honorer di berbagai daerah masih jauh dari kata layak.
Dengan tanggung jawab besar mendidik generasi bangsa, mereka justru harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari gaji yang sangat terbatas.
Kesedihan itu semakin terasa ketika banyak guru honorer mengaku nasib mereka seperti terluntang-lantung.
Harapan untuk diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) belum juga terwujud.
Sebagian dari mereka telah bertahun-tahun mengikuti seleksi, namun tetap belum beruntung lolos.
Salah seorang guru honorer tak kuasa menahan air mata saat membagikan kisah hidupnya.
Dengan suara bergetar, ia menceritakan perbandingan yang membuat hatinya semakin perih, yakni soal perbedaan gaji yang sangat jauh antara dirinya dengan para sopir mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: CPNS Mimika 2026 Berpeluang Dibuka, Kuota OAP Disebut Capai 80 Persen, Ini Penjelasan Lengkapnya
“Kami mengajar dari pagi sampai siang, bahkan kadang sampai sore. Tapi gaji kami tidak sebanding. Saya dengar gaji sopir MBG bisa lebih besar dari kami,” ujarnya sambil menangis.
Guru tersebut mengaku tidak iri terhadap profesi lain.
Namun ia merasa sedih karena profesi guru yang memegang peran penting dalam mencerdaskan anak bangsa justru belum mendapat penghargaan yang layak secara ekonomi.
Baca Juga: Jantung, Ginjal, Kanker Mengintai, Deteksi Dini Bisa Lewat JKN Mobile Skrining Riwayat Kesehatan
Ia juga menuturkan, gaji yang diterimanya sebagai guru honorer sering kali hanya cukup untuk kebutuhan paling dasar.
Untuk biaya transportasi, makan, dan keperluan keluarga, ia harus pandai-pandai berhemat. Bahkan tak jarang, ia harus mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.
Kondisi ini diperparah dengan ketidakpastian status. Tanpa jaminan masa depan yang jelas, banyak guru honorer merasa cemas memikirkan hari esok.
Baca Juga: Terungkap di Sidang Tipikor, Orang Setkab Disebut Ikut Sampaikan Keluhan Microsoft soal Chromebook
Mereka tetap mengajar dengan penuh tanggung jawab, meski hak-haknya belum sepenuhnya terpenuhi.
Sejumlah guru honorer berharap pemerintah dapat lebih serius memperhatikan kesejahteraan mereka.
Bukan hanya soal pengangkatan PPPK, tetapi juga peningkatan honor agar sebanding dengan beban kerja dan peran strategis mereka dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Resmi Dimulai! Program Pangan Bulog 2026 Tembus Jutaan Ton untuk Masyarakat
Tangisan guru honorer ini menjadi potret nyata ironi pendidikan di Indonesia.
Di tengah berbagai program dan kebijakan, masih ada para pendidik yang berjuang dalam senyap, mengabdi tanpa kepastian, dan menunggu janji kesejahteraan yang belum sepenuhnya terwujud.***




