POJOKSATU.ID - Upaya anggota DPR Eko Patrio untuk meredakan amarah publik justru berbalik menjadi bumerang.

Pernyataan permintaan maafnya atas isu kontroversial yang melilit dirinya dianggap tidak tulus dan malah memicu gelombang kemarahan yang lebih besar.

Publik yang sudah terlanjur geram dengan berbagai skandal DPR, melihat permintaan maaf Eko sebagai langkah formalitas tanpa makna.

Hal ini terlihat dari komentar-komentar warganet di media sosial yang menuntut tindakan konkret, bukan hanya kata-kata.

Baca Juga: Mengingat Kembali Momen Najwa Shihab Skakmat Gaji DPR Sebelum Demo Bubarkan DPR dan Melebar

Banyak yang beranggapan bahwa permintaan maaf tidak cukup, dan satu-satunya cara untuk membuktikan penyesalan adalah dengan mengundurkan diri dari jabatannya.

Slogan "minta maaf sama dengan mundur" kini menjadi sorotan tajam.

Slogan ini mencerminkan tingginya ekspektasi publik terhadap pejabat publik.

Mereka tidak hanya menuntut pertanggungjawaban moral, tetapi juga konsekuensi politik yang jelas.

Baca Juga: Kritik DPR: Wakil Rakyat Dinilai Hanya Minta Pajak, Enggan Temui Massa Demo!

Permintaan maaf hanya akan dianggap tulus jika diiringi dengan kesiapan untuk mundur dari jabatan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap DPR sudah berada di titik terendah.

Permintaan maaf, yang seharusnya menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan, kini justru dianggap sebagai penghinaan baru.***

 

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala