POJOKSATU.ID - Kawasan Kalibata kembali dilanda ketegangan hebat setelah bentrokan antara warga dan kelompok mata elang.

Berubah menjadi aksi balas dendam yang menghancurkan sejumlah kios pedagang kecil.

Pada Jumat 12 Desember 2025 pagi, aroma asap dan puing-puing masih menggantung di udara.

Ketika para pedagang kembali ke lokasi untuk menyelamatkan apa pun yang tersisa dari usaha mereka.

Baca Juga: Kabar Resmi CPNS 2026 Kemenkeu, Purbaya Ungkap Skema Gaji Baru yang Bikin Saingan Makin Ketat

Kebakaran yang dipicu aksi anarkistis itu meninggalkan jejak kerusakan yang luas.

Memusnahkan mata pencaharian para pelaku UMKM yang tidak tahu-menahu mengenai penyebab keributan.

Para pedagang mulai mengangkut barang-barang yang selamat setelah petugas PPSU Pancoran selesai membersihkan area yang porak poranda.

Dari kursi plastik hingga kulkas, semuanya diangkut dengan penuh kecemasan menggunakan gerobak maupun mobil.

Baca Juga: Nama Tersangka Pembalakan Liar Sudah di Tangan Kapolri, Mengapa Masih Disembunyikan?

Namun, di tengah penanganan darurat itu, bayang-bayang penyerangan susulan justru semakin memperpanjang ketakutan warga.

Henny Maria, pedagang steak yang kiosnya turut hangus, mengaku ketakutan atas kabar kemungkinan serangan baru dari kelompok tak dikenal.

Menurutnya, pedagang dan warga sama sekali tidak terlibat dalam pengeroyokan dua mata elang yang sebelumnya terjadi dan memicu aksi balasan brutal tersebut.

“Ada kabarnya lagi mau ada penyerangan berikutnya. Kami bersiaga. Kami tidak terlibat kerusuhan itu,” ujarnya, dikutip dari Kompas, 12 Desember 2025.

Ironisnya, hanya tiga bulan sebelumnya Henny baru saja merampungkan renovasi kios dengan biaya hampir Rp 90 juta.

Kini, seluruh jerih payahnya bersisa puing.

Ia mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera turun tangan, memberikan bantuan nyata.

Dan memastikan lokasi tersebut kembali aman agar para pedagang dapat kembali menghidupkan usaha mereka.

Baca Juga: Gubernur Banten Guyur Bonus untuk Atlet Berprestasi, Targetkan Prestasi Lebih Ganas di Ajang Nasional

Namun hingga kini, tidak ada langkah signifikan dari pemerintah yang benar-benar dirasakan oleh korban.

Sumber kerusuhan berasal dari insiden maut pada Kamis 11 Desember 2025.

Ketika dua pria diduga debt collector diberhentikan oleh sekelompok orang setelah mereka menghentikan seorang pemotor.

Berdasarkan keterangan polisi, lima orang dari mobil yang berada di belakang turun menghajar kedua mata elang tersebut hingga tewas.

Baca Juga: Gagasan Kementerian Bencana Dibalas Susi Pudjiastuti, Pemikiran Macam Apa Ini?

Aksi itu memicu gelombang amarah dari rekan-rekan mereka, yang kemudian meluapkan dendam dengan merusak dan membakar kios para pedagang yang tak bersalah.

Aparat keamanan dinilai gagal mengantisipasi aksi balasan yang begitu brutal tersebut.

Tidak ada pengamanan memadai di lokasi rawan, sehingga amukan massa berlangsung tanpa kendali.

Pedagang yang menjadi korban pun hanya mampu menyaksikan dagangan mereka dilalap api tanpa ada perlindungan.

Selain kerugian material, peristiwa ini memicu trauma dan rasa tidak aman yang mendalam di kalangan warga.

Banyak pedagang kini memilih tidak membuka usaha dalam beberapa hari ke depan, khawatir akan serangan lanjutan.

Sementara itu, warga sekitar berharap aparat kepolisian mengusut tuntas pelaku pengeroyokan maupun pembakaran, sekaligus memastikan stabilitas kawasan.

Tanpa kehadiran negara yang kuat dan respons cepat, ketegangan di Kalibata dikhawatirkan terus menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.***