POJOKSATU.ID - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengusulkan perubahan mekanisme pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Ia mendorong agar siswa tidak lagi hanya menerima makanan yang sudah tersaji di meja, melainkan mengambil sendiri porsi makanan mereka secara tertib.

Menurut Abdul Mu’ti, program MBG tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik.

Baca Juga: Selisih TPG Golongan III dan IV Cuma Rp100 Ribuan? Ini Penjelasan Logis, Struktur Pajak, dan Cara Guru Menyikapinya

Lebih dari itu, MBG harus menjadi sarana pembentukan karakter dan pembiasaan nilai-nilai positif sejak dini.

“Program ini bukan hanya soal makan gratis, tapi juga tentang pendidikan karakter,” ujar Abdul Mu’ti, dikutip pojoksatu.id dari Metro TV (30/1/2026).

Ia menjelaskan, dengan membiasakan siswa mengambil makanan sendiri, sekolah dapat menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta budaya antre.

Baca Juga: Kabar Baik! Gaji PNS Februari 2026 Dipastikan Segera Cair, Dana Masuk Rekening dalam Tiga Hari Kedepan, Secara Bertahap

Pola tersebut dinilai mampu melatih kemandirian siswa dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

Abdul Mu’ti menilai, mekanisme pengambilan makanan secara mandiri juga dapat mengajarkan siswa untuk menghargai makanan dan mengambil porsi sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, potensi pemborosan makanan bisa ditekan sejak awal.

Baca Juga: Begini Prosedur Rujukan dari Puskesmas ke Psikolog agar Ditanggung BPJS

“Kalau siswa mengambil sendiri, mereka akan belajar menakar kebutuhan, tidak berlebihan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang diambil,” jelasnya.

Usulan tersebut menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang saat ini terus diperluas di berbagai daerah.

Pemerintah ingin memastikan bahwa program tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga memberikan nilai tambah dari sisi pendidikan.

Abdul Mu’ti menekankan bahwa pembiasaan sikap tertib dan disiplin melalui kegiatan sederhana seperti pengambilan makanan dapat membentuk karakter siswa secara konsisten.

Nilai-nilai tersebut diharapkan terbawa hingga mereka dewasa.

Baca Juga: Resmi! 5.486 PPPK Paruh Waktu Dilantik di Aceh, Gubernur Mualem Tekankan Etika Pelayanan

Ia juga menilai pendekatan ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat.

Sekolah, menurutnya, memiliki peran strategis dalam menanamkan kebiasaan baik melalui aktivitas rutin.

Meski demikian, Abdul Mu’ti menyadari bahwa penerapan mekanisme ini perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga: Jangan Disepelekan, Ini Kebiasaan Sehat Sebelum Tidur agar Bangun Lebih Segar

Faktor usia siswa, jumlah peserta didik, serta kesiapan sarana dan prasarana menjadi hal yang perlu diperhatikan agar pelaksanaannya berjalan optimal.

“Kita tentu perlu melihat kesiapan sekolah. Prinsipnya, ini adalah usulan agar MBG memberi dampak pendidikan yang lebih luas,” katanya.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Baca Juga: TPG Januari Belum Cair karena SKTP Lewat 20 Januari, Ini Penjelasan Resmi Pola Pencairan dan Cara Guru Tetap Dapat Rapel

Dengan tambahan pendekatan pendidikan karakter, pemerintah berharap MBG mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi pembentukan generasi masa depan.

Usulan ini pun diperkirakan akan menjadi bahan diskusi lanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak sekolah dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan MBG ke depan.***