POJOKSATU.ID - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait lambannya pemulihan listrik di wilayah terdampak bencana Sumatera menuai sorotan tajam.
Di tengah ribuan warga yang masih hidup tanpa aliran listrik, Presiden justru meminta publik untuk tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadap kecepatan pemerintah.
Pernyataan tersebut dinilai semakin memperlihatkan jurang antara pernyataan elite dan realitas pahit yang dihadapi para korban banjir dan longsor.
"Penyaluran listrik ke wilayah terdampak tidak bisa dilakukan dengan cepat" ujar Prabowo, dikutip dari Kompas, 13 Desember 2025.
Baca Juga: BEDA STATUS, BEDA HAK! Ini Perbedaan Gaji PPPK Penuh Waktu dan PPPK Paruh Waktu
Ia berdalih kondisi geografis, banjir, serta beratnya infrastruktur menjadi hambatan utama.
Alasan tersebut terdengar klise bagi warga yang telah berminggu-minggu hidup dalam kegelapan, kesulitan air bersih, dan keterbatasan akses kebutuhan pokok.
Daripada menawarkan solusi konkret dengan tenggat waktu jelas, Presiden justru menurunkan ekspektasi publik.
Ucapan bahwa dirinya “tidak punya tongkat Nabi Musa” dianggap sebagai bentuk pengakuan ketidakberdayaan negara di hadapan bencana besar.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Perkuat Gerakan Lanjut Sekolah, Dorong Pendidikan Non-Formal hingga Usia Dewasa
Bagi korban, pernyataan tersebut bukan sekadar metafora, melainkan simbol lemahnya respons negara saat masyarakat berada di titik paling rentan.
Prabowo memang menyebut harapan agar persoalan listrik bisa selesai dalam waktu satu minggu.
Namun, harapan itu dibarengi peringatan agar masyarakat tidak berharap terlalu banyak.
Di lapangan, kondisi ini menciptakan kecemasan baru.
Tanpa kepastian, warga terdampak hanya bisa menunggu sambil bertahan dengan fasilitas darurat yang semakin menipis.
Presiden juga mengklaim situasi pascabencana terkendali dan pengungsi terlayani dengan baik.
Klaim ini bertolak belakang dengan laporan dari sejumlah daerah yang masih mengalami keterisolasian, keterbatasan logistik, dan pemadaman listrik berkepanjangan.
Di beberapa wilayah Aceh dan Sumatera Utara, listrik menjadi kunci utama untuk akses air bersih, komunikasi. Tanpa listrik, kehidupan warga praktis lumpuh.
Ucapan terima kasih kepada petugas dan relawan memang patut diapresiasi.
Namun, pujian tersebut tidak serta-merta menghapus rasa frustrasi masyarakat yang merasa negara lamban dan kurang sigap.
Bagi korban, yang dibutuhkan bukan sekadar pengakuan atas kerja keras aparat, melainkan kehadiran negara dalam bentuk hasil nyata yang bisa dirasakan sehari-hari.
Kunjungan Presiden ke sejumlah titik bencana dinilai lebih bersifat simbolik jika tidak diiringi percepatan pemulihan.
Baca Juga: Kasus Polisi Main Hakim Sendiri di Kalibata, Begini Reaksi Tajam Kompolnas
Di saat korban masih berjuang dengan keterbatasan, pernyataan-pernyataan normatif justru memunculkan kesan.
Bahwa penderitaan rakyat diminta untuk dimaklumi, bukan segera diakhiri.
Bencana besar di Sumatera telah menelan banyak korban jiwa dan memporak-porandakan kehidupan ratusan ribu warga.
Dalam situasi seperti ini, publik menuntut kepemimpinan yang tegas, respons cepat, dan kebijakan luar biasa.
Ketika Presiden justru meminta masyarakat bersabar dan menurunkan harapan, muncul pertanyaan besar.
Itulah update informasi terkait lambannya pemulihan listrik di daerah bencana yang sesuai dengan perkataan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.***




