POJOKSATU.id, JAKARTA— Sebagai Proklamator bangsa bersama Bung Hatta, cerita tentang saudara kandung Bung Karno tidak terlalu banyak. Ternyata Soekarno memiliki kakak bernama Soekarmini.

Kakak perempuan Bung Karno bernama Soekarmini ini lahir pada 29 Maret 1898 di Buleleng Bali dan meninggal pada 22 Oktober 1984 di usia 86 tahun.

Kakak kandung Bung Karno ini dikemudian hari dikenal sebagai Bu Wardoyo.

Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodiharjo dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai Sarimben.

Soekarmini lahir saat sang ayahnya masih bertugas di Buleleng, Bali.

Soekarmini menikah sebanyak dua kali dan memperoleh anak dari suami pertamanya.

Suami pertamanya bernama Poegoeh Reksoatmojo dan mereka menikah pada tahun 1917.

Poegoeh bekerja di Kantor Irigasi Departemen Pekerjaan Umum Pemerintahan Hindia Belanda.

Ketika sekolah di HBS Surabaya, Soekarno dibiayai sekolahnya oleh Poegoeh Reksoatmojo.

Dari pernikahan itu, Soekarmini memiliki empat anak yakni Soekartini Sarojo Poegoeh, Soejoso Poegoeh, Soeharsono Poegoeh, dan Soekojono Poegoeh.

Namun pernikahan mereka berakhir dengan perceraian.

Selanjutnya, tahun 1943, Soekarmini menikah dengan Wardoyo.

Dari pernikahan kedua itu, mereka tak dikaruniai anak.

Namun mereka mengasuh empat anak Soekarmini dari suami pertamanya.

Setelah menikah dengan suami keduanya, Soekarmini lebih dikenal dengan nama Bu Wardoyo.

Soekarmini meninggal tahun 1984 di Blitar, Jawa Timur pada usia 86 tahun.


Kesaksian Soekarmini Masa Kecil Bung Karno

 

Kisah masa kecil Sukarno pernah juga dituturkan oleh saudara kandungnya, Sukarmini, kepada surat kabar Pustaka Antar Kota, edisi 1978, di Jakarta.

Pada tahun 1978 itu, Sukarmini menginjak usia tujuh puluh tahun, dan fisiknya masih terlihat segar dan kuat.

Ingatannya pun masih tajam, terutama sekali ingatan tentang adik kandungnya semasa kanak-kanak.

Menurut Ibu Wardoyo, adiknya yang bernama Sukarno semula bernama Kusno, karena sering sakit-sakitan kemudian diganti Karno atau Sukarno.

Sepengetahuan Ibu Wardoyo, Sukarno kecil terlihat sebagai anak yang biasa-biasa saja.

Tidak ada yang menonjol dalam diri Sukarno, sebab tidak ada yang bisa meramalkan secara pasti bahwa Sukarno akan menjadi presiden dikemudian hari.

Ibu Wardoyo masih teringat akan kebiasaan-kebiasaan adiknya semasa kecil.

Menurutnya, Sukarno merupakan anak yang pemberani dan senang berkelahi.

Jadi, tidak aneh bila Bung Karno pulang dalam keadaan wajah yang babak belur.

"Anak itu pemberani dan doyan berkelahi. Sering kali Karno pulang dengan muka bengkak-bengkak. Hebatnya, kalau berkelahi jarang kalah padahal tidak diajarkan ilmu bela diri,” tegas Ibu Wardoyo.

Kebiasan Bung Karno yang sering berkelahi ketika kecil bukan tanpa alasan. Ia sangat tidak suka kepada orang-orang yang bertindak tidak adil dan merendahkan orang lain. Terutama anak orang Belanda yang ia jumpai ketika sekolah.

Pernah suatu hari, saat Sukarno masih menjadi siswa baru, seorang anak Belanda berpakaian rapi dengan celana baru, putih dan kaku mengangkangi Sukarno.

"Menyingkir dari jalanku, anak Inlander” bentak anak Belanda kepada Sukarno yang tidak mau mengalah.

Tangan anak Belanda itu meninju hidung Sukarno. Ketika hidungnya berdarah, Sukarno mengamuk. Dia menerjang seperti banteng. Perkelahian terjadi dan menggemparkan seluruh sekolah. (ikror/pojoksatu)