POJOKSATU.id - Sebagai umat yang beragama, rumah ibadah sudah pasti bukan lagi hal yang asing.

Rumah ibadah menjadi salah satu hal yang terpenting untuk melaksanakan dan menunaikan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing sesuai yang dianutnya.

Lazimnya, rumah ibadah berdiri di atas sebidang tanah atau berada di dalam sebuah gedung dengan desain yang beragam pula.

Tidak sedikit pula rumah ibadah memiliki desain yang menggambarkan akulturasi atau percampuran budaya yang berbeda.

Baca Juga: Pengumuman Lapor Diri PPG Dalam Jabatan PAI Batch 2 Tahun 2024 di UIN KHAS Jember, Ditunggu Hingga 15 Oktober

Salah satu contohnya adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya yang berdiri dengan gaya arsitektur serta desain budaya negeri China.

Hal yang sama juga terdapat pada Gereja Santa Maria de Fatima di Petak Sembilan, Jakarta Barat dan merupakan cagar budaya penting Nusantara.

Arsitektur gereja ini merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa, Nusantara, dan ajaran Kristiani.

Tapi tahukah Anda bahwa di Indonesia ada masjid dan gereja yang tidak dibangun di atas tanah, melainkan di dalam tanah?

Baca Juga: Awal Mula Hilangnya Aditya Mahasiswa ULM yang Ditemukan Jadi Tengkorak, Sempat Ada Jejak Kaki

Bukan itu saja, masjid dan gereja bawah tanah ini bahkan tercatat merupakan rumah ibadah terdalam yang ada di dunia.

Itu karena kedua rumah ibadah ini dibangun bukan di atas tanah, melainkan dibangun di kedalaman sekitar 1.700 meter di bawah tanah.

Hal itu menjadikan masjid dan gereja ini menjadi rumah ibadah yang dibangun di dalam perut bumi.

Tidak kalah menarik lagi, keberadaan masjid dan gereja ini juga berdampingan dan sama sekali tidak pernah ada perselisihan sejak dibangun.

Kedua rumah ibadah terdalam di dunia itu adalah Masjid Al Baabul Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria.

Masjid dan gereja ini dibangun di kedalaman kurang lebih 1.700 meter di bawah tanah.

Lokasi tepatnya berada di Deep Mill Level Zone (DMLZ) di Kabupaten Mimika, Papua.

Karena lokasinya yang berada di dalam perut bumi, masjid dan gereja ini mencatatkan rekor MURI pada tahun 2017 sebagai tempat ibadah dengan lokasi terdalam di Indonesia, bahkan dunia.

Baca Juga: LEBIH Dari Sekedar HUNIAN, Grand Delima CIomas Jadi Pilihan Ideal, Cocok untuk SEMUA SEGMEN

Sebagaimana lazimnya rumah ibadah, masjid dan gereja tersebut aktif digunakan oleh para karyawan Freeport untuk melaksanakan ibadah.

Tidak hanya itu, rumah ibadah ini juga rutin digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan lain, selain beribadah.

Seperti buka puasa bersama, kultum, pengajian dan kajian, salat tarawih dan kegiatan keagamaan lainnya.

Mereka yang selalu menggunakan masjid dan gereja ini kebanyakan berasal dari bagian operasional tambang bawah tanah.

Seperti bagian mekanik, konstruksi, operator, elektrik, instrumen dan lainnya.

Baca Juga: Aditya Dharma Santoso Ditemukan, Ini Kronologi Penemuan Tengkorak Mahasiswa ULM yang Hilang 5 Bulan Lalu

Bahkan masjid dan gereja ini pernah dikunjungi langsung Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi pada 1 September 2022 lalu.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi mengaku dibuat terkagum-kagum.

Bukan saja karena letaknya di dalam perut bumi, tapi juga karena keunikannya, serta mencerminkan toleransi yang sangat tinggi.

Saat salah satu rumah ibadah melakukan kegiatan apapun, pengunjung rumah ibadah di sebelahnya sama sekali tidak pernah merasa terganggu.

Bahkan jamaah masjid dan gereja ini selalu saling membantu dan bekerjasama ketika ada kegiatan keagamaan tertentu.

 

Sejarah dan Struktur Bangunan

Masjid Al Baabul Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria mulai dibangun sekitar 2014 silam dan baru mulai digunakan pada 2015.

Kedua rumah ibadah ini terletak berdampingan dengan ciri khas masing-masing dan berkapasitas sama, yakni 200 orang.

Masjid Al Baabul Munawwar misalnya, sebuah ornamen kubah dengan dua tiang di kanan dan kiri terlihat di bagian depan atau pintu masuk.

Baca Juga: Guru Madrasah dan PAI Merapat.. Kementerian Agama Siapkan PPG Dalam Jabatan Batch 2 Tahun 2024, Sudah Mulai LAPOR DIRI

Ornamen yang sama juga terdapat di bagian dalam dengan bentangan karpet warna hijau untuk jamaah yang melaksanakan salat.

Sementara pada Gereja Oikumene Soteria, terdapat salib besar di bagian depan.

Salib tersebut juga terdapat di bagian dalam lengkap dengan mimbar serta pohon Natal.

Sedangkan untuk para jemaat, disediakan kursi panjang layaknya yang ada di gereja pada umumnya.

Di kedua rumah ibadah di dalam perut bumi ini juga dilengkapi lampu-lampu gantung sebagai pemerangan.

Baca Juga: Resmob Polda Jabar Tangkap Pelaku Pencurian Besi Rel Kereta Api Seberat 7 Ton

Struktur dan arsitek dari pembangunan Masjid Baabul Munawwar ini adalah seorang lulusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung bernama Andrew Parhusip dan seorang arsiteknya bernama Alexander Mone alumni Universitas Bina Nusantara.

Di dalam kedua rumah ibadah ini juga dipasang teknologi sirkulasi udara untuk menyedot udara kotor ke luar bangunan.

Salah satu yang cukup unik adalah bahwa air di tempat wudhu masjid tidak dingin, melainkan hangat.

Padahal lokasi tambang ini berada di ketinggian dengan hawa yang cukup dingin.

Sementara struktur bangunan bukan dibangun dari dinding atau tembok bata, melainkan langsung melubangi batuan keras sehingga membentuk seperti kubah atau gua berukuran besar.

Kedua rumah ibadah ini diresmikan pada Juni 2016 oleh Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen Fransen G. Siahaan.

Masjid ini dibangun agar para pekerja umat muslim dapat melaksanakan ibadah salat lima waktu di tempat mereka bekerja.

Baca Juga: Cagub Malut Benny Laos Meninggal Kecelakaan, AHY : Semoga Perjuangannya Terus Bermanfaat

Bangunan masjid ini juga bersebelahan atau berdampingan dengan Gereja Oikumene Soteria.

Hal ini sebagai simbol toleransi yang tinggi antar umat beragama di Indonesia.

 

Tukang Batu yang Menangis

Salah satu kisah menarik datang dari seorang tukang batu yang terlibat dalam pembangunan masjid.

Ketika rumah ibadah tersebut sudah jadi dan siap digunakan, sang tukang batu mengaku sangat terharu.

Di kedua rumah ibadah itu, dia melihat umat muslim dan kristiani sama-sama beribadah dengan khusyuk dan tetap bisa bekerjasama.

Baca Juga: Cagub Malut Benny Laos Meninggal Kecelakaan Speedboat, 8 Parpol Minta Restu Istrinya Calon Pengganti

Sembari menitikkan air mata, sang tukang batu mengaku dirinya merasa seperti telah membangun surga kecil di bawah tanah.

Keberadaan kedua rumah ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi antar umat beragama dapat tumbuh subur di mana saja, bahkan di lingkungan kerja yang keras seperti pertambangan.

Para pekerja, baik Muslim maupun Kristiani, saling menghormati dan menghargai perbedaan agama. Mereka sering kali bersama-sama mengadakan acara keagamaan dan sosial.

Kisah Masjid Al Baabul Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.

Banyak delegasi dari berbagai negara mengunjungi kedua rumah ibadah ini untuk belajar tentang semangat toleransi dan kerja sama yang tinggi.

Bagi generasi muda, kisah ini mengajarkan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama. Kita harus saling menghormati perbedaan dan membangun Indonesia yang lebih toleran.

Jadi bagaimana, apakah Anda tidak bangga dengan toleransi umat beragama di Indonesia yang digambarkan Masjid Al Baabul Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria di perut bumi ini?***

Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:

VERSI ANDROID

VERSI iOS