POJOKSATU.id – Bayangkan sedang berburu sinyal di puncak pegunungan susah, kadang hilang timbul, dan butuh usaha keras agar bisa konek.
Nah, itulah persis yang dialami BGN (Badan Gizi Nasional) dalam upaya mencari susu untuk program MBG (Makan Bergizi Gratis) ambisi mulia.
Tapi realitasnya seperti sinyal susah nangkep di ketinggian.
Baca Juga: Dahlan Dahlan
Susu MBG: “Sinyal Lemah” dari Produksi Lokal
BGN menyatakan bahwa ketersediaan susu segar dalam negeri sangat terbatas.
Produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional.
Akibatnya, untuk melayani program MBG secara masif, negara masih harus mengimpor lebih dari separuh komponen susu yang digunakan.
Baca Juga: Pedagang Thrifting Teriak Nafkah, Purbaya Tetap Tegas, Ilegal Ya Ilegal
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, bahkan mengakui kesulitan “mencari” susu dalam jumlah besar untuk MBG.
Sebagai solusi, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembangunan peternakan sapi perah terintegrasi.
"Misalnya, untuk susu ini, kami kan sudah mulai kesulitan cari susu, ya. Ini segera akan dibuat peternakan sapi," Ujar Nanik di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2025).
Dengan target produksi 3 juta liter per hari, supaya pasokan susu lokal bisa ditingkatkan.
BGN bilang susunya langka seperti sinyal di puncak gunung berambisi besar, tapi produksi lokal belum siap.
Sementara itu, instruksi Presiden untuk bangun peternakan perah jadi jawaban ambisius agar pasokan lokal bisa mengejar demand.
Kalau BGN bisa “menangkap sinyal” susu lokal dengan lebih baik.
Baca Juga: Pedagang Thrifting Teriak Nafkah, Purbaya Tetap Tegas, Ilegal Ya Ilegal
Maka program MBG bisa benar-benar menyuplai gizi tanpa tergantung impor dan bukan hanya janjinya yang kuat, tetapi kenyataannya juga.***




