POJOKSATU.id - Kinerja perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Namun, di balik capaian tersebut tersimpan tren yang menjadi perhatian, yakni penyusutan surplus yang cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu hingga akhirnya neraca perdagangan berbalik mengalami defisit pada Mei 2026.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan secara kumulatif selama lima bulan pertama tahun ini mencapai 4,03 miliar dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: WhatsApp Alami Gangguan Riwayat Obrolan di iPhone, Begini Cara Memulihkan Chat yang Hilang

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari–Mei 2025 yang mencapai 15,38 miliar dolar AS atau turun sekitar 74 persen.

Tren pelemahan juga terlihat dari pergerakan bulanan.

Setelah surplus sekitar 3,32 miliar dolar AS pada Maret, nilainya menyusut menjadi sekitar 90 juta dolar AS pada April sebelum akhirnya berubah menjadi defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei.

Baca Juga: HP Lipat Diprediksi Meledak pada 2026, Ponsel Biasa Mulai Kehilangan Daya Tarik

Defisit tersebut menjadi yang pertama dialami Indonesia dalam lebih dari enam tahun.

Meski demikian, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai fondasi perdagangan nasional masih cukup kuat karena surplus sektor nonmigas tetap mampu menopang kinerja secara keseluruhan.

"Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, secara kumulatif kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan perdagangan nonmigas Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan global," ujar Budi di Jakarta.

Baca Juga: Rahasia Top Notes, Middle Notes, dan Base Notes pada Parfum, Ini Cara Memilih Aroma yang Cocok untuk Cuaca Indonesia

Menurut Budi, defisit pada Mei terutama dipicu membengkaknya defisit sektor migas yang mencapai 3,76 miliar dolar AS.

Nilai tersebut berasal dari defisit perdagangan hasil minyak sebesar 3,40 miliar dolar AS dan minyak mentah sekitar 0,70 miliar dolar AS, sementara perdagangan gas alam masih mencatat surplus sekitar 0,35 miliar dolar AS.

Di luar sektor migas, perdagangan nonmigas tetap menunjukkan kinerja positif.

Pada Mei 2026, surplus nonmigas tercatat sebesar 2,15 miliar dolar AS.

Kontributor terbesarnya berasal dari komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta besi dan baja.

Baca Juga: Cek 4 Rekomendasi Laptop untuk Pelajar 2026, Performa Andal untuk Belajar hingga Kelas Online

Secara kumulatif selama Januari hingga Mei 2026, surplus nonmigas mencapai 16,31 miliar dolar AS.

Penyumbang utama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar 13,92 miliar dolar AS, diikuti bahan bakar mineral sebesar 10,88 miliar dolar AS dan besi serta baja senilai 7,09 miliar dolar AS.

Sepanjang lima bulan pertama tahun ini, nilai ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dolar AS atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dolar AS, sementara ekspor migas justru turun 12,71 persen.

Baca Juga: BMKG Ungkap Es Abadi Papua Tinggal Hitungan Bulan, Indonesia Terancam Kehilangan Warisan Langka

Di sisi lain, laju impor meningkat jauh lebih cepat.

Nilai impor mencapai 111,33 miliar dolar AS atau tumbuh 15,24 persen secara tahunan.

Impor nonmigas meningkat 13,16 persen menjadi 93,88 miliar dolar AS, sedangkan impor migas melonjak hingga 27,89 persen.

Seorang analis menilai penggunaan data kumulatif memang tidak keliru, tetapi belum cukup menggambarkan kondisi perdagangan yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Ekonomi Indonesia Tak Menuju Krisis, APBN Disebut Tetap Sehat

"Kalau, misalnya, laporan Chief Financial Officer kepada dewan direksi, tidak cukup hanya mengatakan kinerja year-to-date masih positif. Direksi pasti akan meminta rincian month-on-month dan year-on-year karena dari situlah terlihat apakah bisnis sedang membaik atau justru melemah," ujarnya.

Ia mengibaratkan surplus kumulatif seperti retained earnings dalam laporan keuangan perusahaan yang mencerminkan akumulasi hasil masa lalu, sementara tren bulanan menjadi indikator yang lebih penting untuk membaca arah bisnis ke depan.

"Retained earnings bisa saja masih positif, tetapi itu merupakan akumulasi kinerja masa lalu. Yang paling diperhatikan justru tren quarter-on-quarter atau month-on-month karena menjadi indikator arah bisnis ke depan," katanya.

Menurut analis tersebut, penyusutan surplus bukan disebabkan ekspor yang melemah, melainkan karena pertumbuhan impor jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Duta Keselamatan Berkendara Astra Honda Raih Jutaan Views

Selain dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, membengkaknya impor migas juga disebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga BBM bersubsidi sehingga konsumsi bahan bakar tidak banyak berubah ketika harga minyak meningkat.

"Kebijakan itu memang membantu menjaga daya beli masyarakat, menahan inflasi dan mengejar pertumbuhan ekonomi. Namun konsekuensinya, konsumsi BBM tidak banyak berubah ketika harga minyak dunia naik sehingga impor migas ikut membengkak dan pada akhirnya menggerus surplus perdagangan," ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, menjaga surplus perdagangan bukan hanya soal meningkatkan ekspor, tetapi juga memastikan pertumbuhan impor tetap terkendali.

Keseimbangan keduanya akan menjadi salah satu penentu ketahanan ekonomi Indonesia pada periode mendatang.***