POJOKSATU.ID - Setelah heboh disebut sebagai bahan bakar RON 98 buatan anak muda Indonesia.
Kini publik bertanya-tanya apakah BOBIBOS sudah benar-benar siap untuk dijual dan digunakan masyarakat?
Jawaban singkatnya secara teknis siap, tapi belum secara administratif.
Baca Juga: Mau Ganti Background Foto Tanpa Ribet, Coba Pakai Aplikasi Gratis Ini Dijamin Hasilnya Keren
Bahan bakar hasil karya M. Ikhlas Thamrin, pemuda asal Jonggol, Bogor, itu sudah melalui uji laboratorium dan sertifikasi dari lembaga di bawah Kementerian (ESDM).
Namun, untuk melangkah ke tahap distribusi massal, inovasi ini masih terhalang sederet proses regulasi dan perizinan.
Lolos Uji, Setara Pertamax Turbo
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa BOBIBOS memiliki angka oktan (RON) 98, setara dengan Pertamax Turbo keluaran Pertamina.
Tak hanya itu, hasil pembakaran bahan bakar ini menghasilkan emisi karbon di bawah 30% dari bensin konvensional.
Menjadikannya salah satu bahan bakar paling ramah lingkungan yang pernah dibuat di Indonesia.
Proses sertifikasi dilakukan di Laboratorium Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Energi ESDM, tempat yang juga biasa menguji kualitas BBM nasional.
Hasil resmi menunjukkan BOBIBOS memenuhi semua parameter standar bahan bakar kendaraan bermotor mulai dari titik nyala, kadar sulfur, hingga kestabilan oksidasi.
Siap Diproduksi, Tapi Tertahan Izin
BOBIBOS kini sudah siap diproduksi di skala kecil menengah.
Baca Juga: Ramai BOBIBOS, BBM Alternatif Ramah Lingkungan, Disebut SIAP GANTIKAN Pertamax Turbo
Tim riset M. Ikhlas Thamrin telah membangun kilang mini di Jonggol dengan kapasitas produksi 5.000 liter per hari.
Bahan bakunya berasal dari tanaman lokal seperti jarak, kemiri, dan singkong industri, yang mudah diperoleh dan bisa ditanam di hampir semua wilayah Indonesia.
Sayangnya, izin untuk memasarkannya secara komersial masih dalam proses panjang.
Ia menilai proses birokrasi yang berlapis-lapis menjadi tembok penghalang utama bagi inovasi energi lokal.
Harga Murah, Emisi Rendah
Selain keunggulan teknis, BOBIBOS juga menawarkan harga yang jauh lebih murah dari BBM konvensional.
Berdasarkan perhitungan produksi, harga per liter BOBIBOS hanya sekitar Rp7.000 hampir separuh dari harga Pertamax Turbo yang kini di atas Rp14.000.
Baca Juga: BLT Kesra Dinilai Tak Tepat Sasaran, Warga Bandung Kritik Penyaluran yang Lambat dan Data Tak Akurat
Dengan bahan baku dari tanaman lokal, BOBIBOS juga berpotensi menghidupkan ekonomi desa. Petani bisa ikut menanam bahan bakar ini tanpa mengganggu produksi pangan.
Setiap hektar lahan bisa menghasilkan 5.000 liter bahan bakar per tahun, dan limbahnya pun bisa dijadikan pupuk organik.
Pakar Energi Ini Sudah Siap Masuk Tahap Komersial
Pengamat energi terbarukan Fathul Hadi menilai, hasil uji BOBIBOS adalah terobosan besar dalam sejarah energi Indonesia.
Baca Juga: BLT Kesra Bikin Warga Lega Tapi Cemas, Takut Tak Masuk Daftar Lagi Tahun Depan
Menurut Fathul, jika semua data uji BOBIBOS sudah tervalidasi, tidak ada alasan bagi pemerintah menunda izin komersial.
Kementerian ESDM Masih Hati-Hati
Dihubungi terpisah, sumber di Kementerian ESDM mengakui BOBIBOS sudah menjalani sebagian besar tahapan sertifikasi.
Namun pihaknya masih perlu melakukan uji jangka panjang untuk memastikan stabilitas performa dan keamanan.
Kementerian ESDM berencana membuka program pilot project nasional untuk bahan bakar alternatif berbasis bio.
Jonggol Jadi Pusat Harapan Baru
Meski terkendala izin, aktivitas di laboratorium BOBIBOS di Jonggol tak pernah berhenti.
Baca Juga: Upgrade Diri Kamu, Ini Mindset Lucky Vicky ala Jang Wonyoung IVE
Beberapa lembaga pendidikan dan komunitas energi hijau sudah mulai datang untuk belajar dan meneliti bersama tim Ikhlas.
berharap dalam waktu dekat bisa memperluas kerja sama dengan universitas negeri dan lembaga riset BUMN.
Siap Secara Teknologi, Butuh Keberanian Politik
Secara teknis, BOBIBOS sudah siap diproduksi dan digunakan.
Baca Juga: Upgrade Diri Kamu, Ini Mindset Lucky Vicky ala Jang Wonyoung IVE
Hasil uji menunjukkan kualitas tinggi, harga murah, dan ramah lingkungan. Tapi jalan menuju pasar masih panjang.
BOBIBOS kini menunggu lampu hijau dari regulator.
Bukan tidak mungkin Indonesia akan mencatat sejarah menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memproduksi bahan bakar hijau beroktan tinggi buatan anak bangsanya sendiri.***




