POJOKSATU.ID - Hujan deras yang mengguyur Jakarta Selatan akhir Oktober lalu kembali mengubah Kemang menjadi kolam raksasa.
Di balik genangan setinggi lutut hingga dada itu, aliran Kali Krukut disebut-sebut jadi sumber utama masalah.
Sungai yang dulu mengalir tenang kini tampak sesak dihimpit bangunan beton yang berdiri di kanan-kirinya.
Kali yang Kehilangan Nafas
Warga sekitar menyebut, sejak beberapa tahun terakhir, lebar aliran Kali Krukut di kawasan Kemang kian menyempit.
Baca Juga: 78 Persen dari Siapa? Ketika Survei Tak Mewakili Suara Desa dan Buruh
Banyak rumah dan kafe berdiri hanya beberapa meter dari bibir sungai.
Pernyataan itu sejalan dengan data Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta yang mencatat, di beberapa titik lebar kali hanya tersisa 5–8 meter dari kondisi ideal 15–20 meter.
Akibat penyempitan itu, ketika hujan turun deras, debit air tak tertampung.
Air pun mencari jalannya sendiri keluar dari sungai dan menggenangi permukiman padat di sekitarnya.
Bangunan di Bantaran, Masalah Lama yang Tak Tuntas
Masalah bangunan di atas aliran sungai bukan hal baru, Sejak 2016, pemerintah DKI sudah berencana melakukan normalisasi Kali Krukut.
Namun hingga kini proyek itu belum sepenuhnya berjalan karena terkendala pembebasan lahan dan izin bangunan.
Baca Juga: Perbedaan Tenaga Honorer dan PPPK, Status, Gaji, dan Kepastian Karier
Sebagian besar lahan bantaran ternyata sudah dimiliki atau digunakan warga dan pelaku usaha.
Di lapangan, sejumlah bangunan bahkan berdiri menjorok ke badan sungai, membuat aliran air berbelok tajam di beberapa titik.
Kondisi inilah yang menyebabkan aliran air melambat dan akhirnya meluap ketika volume meningkat.
Retakan Tanggul dan Luapan Kemang
Kasus terbaru terjadi pada 30 Oktober 2025 lalu, Tanggul di kawasan Kemang Village retak, menyebabkan air dari Kali Krukut keluar dan merendam jalan serta rumah warga.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut pihaknya langsung menurunkan tim gabungan untuk memperbaiki tanggul serta melakukan pengerukan darurat.
Menurutnya, proyek normalisasi kini akan dikebut dengan target selesai sebelum musim hujan puncak Desember Januari.
Selain pengerukan, pemerintah juga berencana memperlebar sungai dan memperkuat dinding tanggul agar tahan tekanan debit besar.
Sempitnya Ruang Sungai di Tengah Kota
Kali Krukut membentang dari kawasan hulu di Depok hingga ke hilir di sekitar Sudirman.
Panjang totalnya mencapai lebih dari 30 kilometer, melewati wilayah padat seperti Kemang, Kuningan, dan Bendungan Hilir.
Di jalur tengah hingga hilir, ruang bagi sungai hampir hilang.
Lahan kosong berganti dengan betonmulai dari rumah tinggal, restoran, hingga apartemen tinggi.
Baca Juga: Catat! Ini Formasi CPNS 2026 yang Bisa Dilamar Lulusan SMA/SMK, Simak Syarat dan Cara Daftarmya
Kondisi inilah yang disebut pakar tata kota Universitas Indonesia, Bambang Widodo, sebagai krisis ruang air
Normalisasi Dikebut, Tapi Perlu Ketegasan
Pemprov DKI menegaskan proyek normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 km kini menjadi prioritas utama.
Selain pengerukan, pemerintah menyiapkan pembebasan 1,5 hektar lahan untuk mengembalikan lebar sungai ke kondisi ideal.
Namun pelaksanaannya tak akan mudah. Banyak warga menolak pindah karena khawatir ganti rugi tak sepadan.
Baca Juga: Infrastruktur Hijau Jadi Penggerak Ketahanan dan Kesejahteraan, Kata Menko AHY
Pemerintah berjanji melakukan pendekatan humanis, Skema ganti untung dan relokasi akan dilakukan bertahap sambil tetap menjaga arus air agar tak terganggu.
Di balik beton dan hiruk-pikuk Kemang, Kali Krukut masih mengalir pelan, membawa cerita tentang tata kota yang terabaikan.
Jika normalisasi kali ini benar-benar terlaksana, bukan hanya Kemang yang akan terbebas dari banjir tapi juga menjadi awal pemulihan sungai-sungai lain di Jakarta Selatan.***




