POJOKSATU.id - Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) menegaskan bahwa budaya kekerasan atau perlakuan kasar senior kepada junior di lingkungan kampus yang berada di bawah Kementerian Perhubungan sudah tidak ada lagi.

Ahmad Wahid, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), menyatakan bahwa tidak ada praktik perlakuan kasar di kampus tersebut.

"Praktik tersebut merupakan penyakit turun temurun yang telah berhasil dihilangkan," ujar Wahid.

Baca Juga: MenPAN RB Pastikan Pendaftaran CPNS 2024 dan PPPK 2024 Tidak Ditunda, Modus Joki Terungkap, Jadinya Juni atau Juli?

Sebagai tanggapan atas kejadian tragis yang menimpa salah satu taruna pada Jumat pagi di Marunda, Jakarta.

Menurut Wahid, selama satu tahun berada di kampus tersebut, tidak ada tanda-tanda budaya tersebut masih ada.

Wahid menegaskan bahwa insiden yang menyebabkan kematian seorang taruna di luar kuasa pihaknya karena kejadian tersebut terjadi di luar program resmi kampus.

"Budaya tersebut sudah sepenuhnya kami hilangkan, ini merupakan masalah antarpribadi," tambah Wahid.

Baca Juga: Aulia Rachman Kembalikan Berkas Pendaftaran Bacalon Wali Kota Medan ke PAN

Dia menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi di luar ruang lingkup kegiatan akademik yang diatur oleh kampus, yakni terjadi di kamar mandi.

"Tindakan tegas akan diberikan kepada pelaku yang terbukti melakukan tindak kekerasan dengan menjatuhkan sanksi, termasuk pengusiran dari kampus," ujar Wahid.

Wahid menegaskan bahwa STIP tidak akan menolak tanggung jawab atas kematian taruna tingkat satu tersebut.

"Kami tidak akan menghindar dari tanggung jawab," katanya.

Baca Juga: Aulia Rachman Kembalikan Berkas Pendaftaran Bacalon Wali Kota Medan ke PAN

Perlakuan kekerasan yang dilakukan senior kepada junior di STIP Marunda Jakarta Utara bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi.

Sebelumnya, beberapa kasus serupa telah terjadi dan menyebabkan kematian taruna yang masih muda akibat kekerasan tersebut.

Pada Jumat terakhir, seorang taruna angkatan pertama (2023) yang berasal dari Bali meninggal di kamar mandi kampus.

Diduga telah menjadi korban kekerasan oleh sesama taruna senior.

Baca Juga: Awas Penipuan Berkedok Rekrutmen di PT KAI, Cek Dulu Kebenarannya

Kasus serupa juga pernah terjadi sebelumnya, termasuk kematian taruna STIP seperti Amirullah Adityas pada Januari 2017.

Dimas Dikita Handoko pada April 2014, Daniel Roberto Tampubolon pada April 2015, dan Agung Bastian pada 2008.

Polisi telah memeriksa 10 orang saksi dalam rangka penyelidikan kasus ini.***