POJOKSATU.id - Di tengah gelombang transisi energi di Indonesia, satu celah besar terbuka.
Bagi startup dan perusahaan teknologi munculnya proyek besar pengembangan Dimethyl Ether (DME)
Yang akan menggantikan atau mensubstitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam jangka menengah.
Baca Juga: Tajur akan Punya Hutan Kota, Wujud Komitmen Bogor Menuju Pembangunan Hijau
Proyek ini tak hanya soal bahan bakar rumah tangga, tapi membuka rantai bisnis baru bagi pelaku swasta disruptif dan penuh peluang.
Peluang pasar yang menganga
Menurut rilis resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Baca Juga: Bansos PKH, BPNT, dan BLT Kesra Tak Kenal Hari Libur, Dana Triliunan Terus Mengalir ke Rakyat Miskin
DME dikembangkan sebagai alternatif LPG dalam rangka memperkuat ketahanan energi.
Serta mengurangi impor LPG yang mencapai sekitar tiga perempat dari total kebutuhan domestik.
Proyek gasifikasi batu bara menuju DME kini termasuk dalam daftar 18 proyek hilirisasi besar yang diajukan pemerintah.
Baca Juga: Geger! ASN Terlibat JaringanNarkoba, Pemkab Tangerang Siapkan Tes Urine Untuk Ribuan Pegawainya
Dengan nilai investasi sekitar Rp 164 triliun untuk beberapa lokasi di Kalimantan dan Sumatra.
Lebih jauh, badan investasi negara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan kesediaannya untuk berinvestasi langsung ke proyek DME.
Menandakan peluang bisnis yang tidak lagi hanya di tangan BUMN atau investor besar asing.
Dari teknologi hingga logistik
Bagi startup, ada beberapa segmen yang sangat menjanjikan.
Baca Juga: Segini Gaji PPPK Paruh Waktu di Sulawesi Tahun 2025, Mengacu Peraturan KemenPAN RB
Teknologi gasifikasi batu bara atau biomassa untuk menghasilkan DME, yang membutuhkan inovasi katalis, efisiensi proses, dan digitalisasi.
Infrastruktur distribusi dan penyimpanan DME karena meskipun DME mirip LPG.
Ada adaptasi teknis, sistem kontrol keamanan, tabung, pipeline/logistik yang berbeda atau perlu penyesuaian.
Baca Juga: BLT Kesra Cair, Kemensos Sapu Bersih Penerima Bansos yang Main Judi Online dan Salah Sasaran
Perangkat masak atau kompor generasi baru yang kompatibel atau bisa di-upgrade dari LPG ke DME untuk pasar rumah tangga di Indonesia.
Platform digital atau aplikasi monitoring konsumsi energi, pemeliharaan sistem DME, atau marketplace bahan baku alternatif (biomassa limbah, CBM) yang bisa jadi feedstock DME.
Tantangan & peta persaingan
Namun, catatan penting proyek DME menghadapi tantangan berat keekonomian dan teknis.
Analisis menunjukkan harga produksi DME bisa mencapai US$ 900+ per ton sekitar dua kali lebih tinggi dari harga impor LPG.
Investor besar sebelumnya mundur dari proyek sejenis karena risiko tinggi.
Seperti perusahaan AS Air Products and Chemicals, Inc. yang keluar dari dua proyek gasifikasi batu bara di Indonesia.
Untuk startup kecil atau menengah, artinya bukan hanya peluang besar namun juga kompetisi ketat dan risiko teknologi serta regulasi yang harus dikelola.
Strategi masuk bagi startup
Baca Juga: IKA-UGJ Desak Polisi Ungkap Dugaan Pelecehan Mahasiswi Kedokteran di RSUD Waled
Fokus pada niche teknologi spesifik misalnya katalis efisiensi tinggi, sistem safety untuk DME, digital monitoring daripada mencoba skala penuh langsung pabrik DME.
Kolaborasi dengan BUMN atau perguruan tinggi yang sudah punya riset DME misalnya program uji coba DME di konsumen rumah tangga oleh ESDM.
Manfaatkan model bisnis platform/ekosistem bukan hanya produksi bahan bakar tapi jaringan distribusi, layanan pemeliharaan, digitalisasi.
Baca Juga: Pemkab Cirebon Tegaskan Disiplin ASN, Stop Nongkrong dan Aktivitas Pribadi Saat Dinas!
Positioning “energi hijau lokal” bisa jadi daya tarik besar meskipun proyek DME dari batu bara punya catatan emisi yang kontroversial.
Ada potensi dari biomassa/limbah yang bisa diangkat sebagai nilai tambah.
Peralihan dari LPG ke DME bukan sekedar penggantian bahan bakar ini membuka lapangan bisnis baru yang bisa direbut oleh startup yang tangkas dan inovatif.
Baca Juga: Aksi Heroik Hansip Cakung, Duel Lawan Maling Motor, Tewas Demi Lindungi Lingkungan
Dengan skala investasi minggu ini, potensi terbuka lebar, namun hanya mereka yang hadir dengan keunggulan teknologi.
Model bisnis tepat, dan kemitraan strategis yang akan menang.
Bagi pasar startup Indonesia, momentum ini bisa jadi “ground zero” dari revolusi energi rumah tangga berikutnya.***




