POJOKSATU.ID - PT Sri Rejeki Isman atau Sritex yang berada di Sukoharjo, Jawa Tengah berada di akhir masa jayanya. Tepat hari ini, Sabtu (1/3/2025) Sritex tidak lagi beroperasi.

Kini usai ditutup total pada 1 Maret 2025 atau di awal Ramadhan maka Sritex sepenuhnya dimiliki kurator.

"Setelah dilakukan perundingan, sudah menemui titik temu," ucap Sumarno, pada Kamis (27/2/2025) lalu.

Baca Juga: Diserang Tuduhan Tak Mendasar, Konten 'Downlod' dr Richard Lee dan Ustax Felix Siauw Resmi Tidak Tayang Ramadhan Tahun Ini

Sumarno menambhakan jika ribuan karyawan telah mengalami pemutusan kerja sejak 26 Februari.

"Yang intinya PHK, setelah diputuskan tanggal 26 Februari PHK, namun untuk bekerja sampai tanggal 28, sehingga off tanggal 1 Maret. Puasa awal sudah berhenti total (PT Sritex) ini jadi kewenangan kurator," tegasnya.

Sumarno menjelaskan setelah karyawan di PHK, urusan gaji dan pesangon menjadi tanggung jawab kurator. Adapun perihal hak jaminan hari tua karyawan menjadi kewenangan BPJS Ketenagakerjaan.

Baca Juga: iPhone 16e Resmi Meluncur! Cek Spesifikasi, Harga, dan Pajaknya di Indonesia

"Sudah lepas (tanggung jawab Sritex). Perusahaan itu sudah jadi milik kurator," tegasnya.

Kabar pailitnya Sritex ini menuai sorotan publik Tanah Air mengingat perusahaan sudah sangat besar dan berjaya selama puluhan tahun.

Terlebih, perusahaan ini sempat digadang-gadang sebagai produsen tekstil terbesar se-Asia Tenggara.

Simak perjalanan bisnis Sritex pada masa kejayaannya hingga akhirnya tutup total pada 1 Maret 2025:

Baca Juga: Jelang Ramadan, 11.471 Penumpang Kereta Api Pulang Kampung Lewat Cirebon

Perusahaan Tradisional dari Solo
Berdasarkan situs resmi perusahaan, Sritex sudah berdiri sejak tahun 1966 silam.

Pendirian perusahaan ini tentu tidak lepas dari sosok HM Lukminto sebagai perusahaan perdagangan tradisional di Pasar Klewer, Solo.

Sritex baru membuka pabrik cetak pertamanya yang menghasilkan kain putih dan berwarna di Solo pada 1968, dan baru terdaftar di Kementerian Perdagangan sebagai perseroan terbatas pada 1978.

Baca Juga: Bank Emas Resmi Beroperasi, Sunarso: Sumber Pertumbuhan Baru untuk Perekonomian

Singkat cerita, Sritex kemudian mendirikan pabrik tenun pertama mereka pada 1982 lalu.

Kemudian, perusahaan tekstil ini terus memperluas pabrik bahkan hingga 1992 pusat produksi perusahaan berhasil memiliki dengan 4 lini (pemintalan, penenunan, sentuhan akhir dan busana) dalam satu atap.

Mulai Mendunia: Pernah Dipercaya Bikin Seragam NATO
Menilik rekam jejak bisnisnya, Sritek pernah dipercaya menjadi produsen seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman.

Baca Juga: Usut Dugaan Pidana di Kasus Pagar Laut Bekasi, Bareskrim Beri Sinyal Begini

Berkat itu Sritex selamat dari Krisis Moneter di 1998 dan berhasil melipatgandakan pertumbuhannya sampai 8 kali lipat dibanding waktu pertama kali terintegrasi pada 1992.

Saat itu, kualitas kain dan pakaian hasil produksi Sritex memang sudah diakui dunia.

Sebab produsen tekstil terbesar se-Asia Tenggara yang berada di Sukoharjo, Jawa Tengah ini terbukti sempat memproduksi berbagai produk global.

Baca Juga: Panduan Lengkap: Cara Efektif Menulis Esai untuk PPG Prajabatan

Berhutang hingga Dinyatakan Pailit
Dalam kesempatan berbeda, PN Semarang memberi putusan atas perkara utang Sritex yang digugat oleh krediturnya, PT Indo Bharat (IBR) pada tahun 2024.

Hal itu sekaligus menandakan kejayaan raksasa tekstil itu sudah redup dan kini dinyatakan pailit.

Kebangkrutan Sritex ada dalam putusan PN Semarang atas perkara nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg.

Baca Juga: BKN Akhirnya Rilis Ketentuan Besaran Gaji dan Tunjangan yang Diterima Peserta CPNS 2024, Catat Besarannya!

Sritex dinyatakan pailit karena tak mampu melunasi utang dan digugat oleh IBR.

Sritex juga tercatat memiliki utang sebesar Rp101,30 miliar kepada IBR, atau setara 0,38 persen dari total liabilitas perseroan. ***