POJOKSATU.ID - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menekankan bahwa langkah negosiasi yang ditempuh pemerintah dalam menghadapi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat tidak hanya bertujuan untuk meredam tekanan eksternal.

Lebih dari itu, strategi ini merupakan instrumen penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional serta keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025.

Usai menghadiri pertemuan musim semi IMF-Bank Dunia tahun 2025 di Washington DC, Sri Mulyani menyatakan bahwa Indonesia berupaya menampilkan diri sebagai mitra dialog yang konstruktif.

Serta memiliki visi ke depan dan mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Baca Juga: Prabowo Targetkan Digitalisasi Sekolah di Seluruh Indonesia dengan Papan Interaktif dan Layar Televisi pada Tahun 2026

Pemerintah menyadari sepenuhnya tantangan global yang ada dan berupaya mencari solusi terbaik bagi kepentingan nasional.

Data perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan tren peningkatan yang positif sejak tahun 2015 hingga 2024.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa peningkatan surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat lebih didorong oleh tren positif pada neraca perdagangan non-migas.

Berdasarkan data BPS hingga bulan Maret 2025, Indonesia berhasil mencatatkan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar USD4,32 miliar.

Baca Juga: Kunjungan Wisman ke Indonesia Melonjak di Mei 2024, Turis Rusia Catat Rekor Tinggal Terlama

Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, di mana surplus perdagangan tercatat sebesar USD3,61 miliar.

Amalia merinci lebih lanjut bahwa ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat didominasi oleh komoditas non-migas.

Beberapa komoditas unggulan meliputi mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian rajutan, serta alas kaki.

Sementara itu, dalam sektor migas, impor Indonesia dari Amerika Serikat terutama mencakup minyak mentah (Crude Petroleum Oil), propana cair (Liquefied Propane), dan butana cair (Liquefied Butane).

Di sisi impor non-migas dari Amerika Serikat, Indonesia banyak mengimpor mesin dan peralatan mekanis, biji dan buah mengandung minyak seperti kedelai, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Data ini menunjukkan adanya ketergantungan dan potensi kerja sama yang saling menguntungkan dalam berbagai sektor perdagangan non-migas antara kedua negara.

Strategi negosiasi yang komprehensif diharapkan dapat terus memperkuat tren positif ini sambil menjaga kepentingan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.***