POJOKSATU.ID - Baru sebulan menjabat sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa langsung bikin gempar dengan gebrakan tak biasa.
Dana kas negara yang selama ini “nangkring” di rekening Bank Indonesia, dipindahkan ke bank-bank BUMN alias Himbara.
Langkah yang disebutnya sederhana itu ternyata memantik diskusi besar soal arah pengelolaan fiskal ke depan.
Banyak yang menyebut Purbaya menganut filosofi “spend baby spend”, alias anggaran negara harus dihabiskan.
Baca Juga: Cegah Laporan Asal-Asalan, DPRD Tangsel Sidak Trotoar Ciater Rp7 Miliar
Tapi ternyata, jika ditelisik lebih dalam, sang menteri justru menawarkan sesuatu yang lebih halus, yaitu efisiensi.
Bukan jor-joran, tapi memastikan setiap rupiah yang sudah didesain dalam APBN benar-benar berputar di perekonomian.
Kas Negara “Ditidurkan” di BI Dipindah ke Himbara
Hari kedua menjabat, Purbaya memindahkan ratusan triliun rupiah dari rekening BI ke bank-bank Himbara.
Purbaya menyebutkan dana itu selama ini “tidur” di BI, tidak banyak menggerakkan ekonomi.
Baca Juga: Kodim 0604 Karawang Gelar Doa Bersama HUT ke-80 TNI
“Kalau uang negara ditaruh di BI, ya sistem keuangan jadi kering. Padahal itu uang rakyat, harusnya ikut bekerja menggerakkan kredit dan investasi,” ujarnya blak-blakan.
Dengan dana yang masuk ke sistem perbankan, logikanya sederhana: likuiditas melimpah, bunga turun, kredit tersalurkan, sektor riil bergerak. Persis resep yang pernah dipakai Indonesia saat keluar dari krisis 2008, 2015, hingga pandemi 2020–2021.
Filosofi Anggaran: Bukan Jor-Joran, Tapi Menghindari Inefisiensi
Dalam wawancara eksklusif, Purbaya menepis label “koboi” yang menempel padanya.
Baca Juga: HUT ke-25 Banten Semarak: Ada Festival Jajanan, Launching Bus Trans, Hingga Konser Rakyat
Ditegaskan Purbaya jika prinsip dasar pengelolaan anggaran yang dilakukannya kalau sudah didesain, harus habis.
“Kalau uang sudah dianggarkan tapi tidak dibelanjakan, itu inefisiensi. Artinya negara sudah keluar biaya utang, bayar bunga, tapi dananya tidak bekerja untuk ekonomi,” jelasnya.
Purbaya memberikan contoh, jika ada sisa anggaran Rp400 triliun, dengan bunga obligasi rata-rata 7 persen, negara membayar sekitar Rp28 triliun hanya untuk uang yang tidak terpakai.
“Itu kan dosa ganda: pembangunan tidak jalan, fiskal juga bocor,” tegas pengganti Sri Mulyani itu.
Spend vs Efisiensi
Di sinilah bedanya. Purbaya memang terdengar agresif dengan narasi “belanja harus habis.” Tapi inti dari argumennya bukanlah boros, melainkan efisiensi fiskal.
“Spend baby spend itu salah kaprah. Yang saya maksud efisiensi baby efisiensi. Kalau sudah ada anggaran, ya jalankan. Kalau tidak bisa jalankan, potong dari awal supaya tidak menimbulkan bunga sia-sia,” tambanya.
Dengan begitu, APBN tidak hanya menjadi alat pembangunan, tapi juga menjaga kredibilitas fiskal.
Baca Juga: MBG Jadi Harapan, Ibu Hamil di Tangsel Berharap Program Tak Putus di Tengah Jalan
Risiko Inflasi dan Defisit, Masih dalam Jalur Aman
Publik sempat khawatir, pendekatan ekspansif ala Purbaya bisa memicu inflasi atau defisit melebar. Ia buru-buru menepis.
“Saya belum mengubah apa-apa. Defisit tetap di bawah 3 persen, utang relatif aman di kisaran 39 persen PDB. Kita masih jauh lebih pruden dibanding Amerika atau Jepang,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia masih punya ruang besar untuk menambah likuiditas tanpa takut inflasi. Alasannya, sejak lama pertumbuhan ekonomi kita tertahan di bawah potensi.
“Selama kita belum tembus 6,5–7 persen, tidak ada yang namanya demand-pull inflation,” tandasnya.
Baca Juga: UMKM Binaan Pertamina Regional JBB Ramaikan Pameran Kerajinan Terbesar se-Asia Tenggara
Daerah Jangan Timbun Duit
Purbaya juga menyorot kebiasaan pemerintah daerah yang gemar menimbun anggaran di kas.
“Kalau Pemda tidak bisa belanja, itu dosanya dua, pembangunan tidak jalan, dan sistem ekonomi dicekik karena uang disimpan saja,” katanya.
Baginya, lebih baik dana segera diputar meskipun tidak semua terserap sempurna. Minimal, ekonomi tetap bergerak.
Optimisme sebagai Demand Baru
Di luar kebijakan teknis, Purbaya percaya bahwa optimisme publik adalah motor ekonomi.
Purbaya memberikan contoh, begitu masyarakat yakin arah kebijakan jelas, konsumsi akan meningkat.
“Ekonomi itu perilaku. Kalau orang pesimis, mereka menahan belanja. Kalau optimis, mereka ekspansi. Itu self-fulfilling prophecy,” katanya.
Maka tak heran, gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos sering dipandang sebagai strategi membangkitkan kepercayaan pasar.
Menuju APBN Efektif
Pada akhirnya, gaya baru manajemen APBN ala Purbaya tidak sekadar “belanja habis-habisan.”
Baca Juga: Lowongan Kerja BRI 2025! Peluang Karier di Perbankan Pelat Merah, Cek Posisi dan Syaratnya di Sini
Filosofinya jelas, anggaran harus tepat guna, tepat waktu, dan tidak boleh mubazir.
“Kalau kita sudah bikin utang, lalu uangnya nganggur, itu salah. Lebih baik potong dari awal, atau jalankan sampai habis sesuai desain. Jangan biarkan ekonomi kering karena kesalahan sendiri,” pungkasnya.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Dengan filosofi ini, publik menunggu apakah strategi Purbaya benar-benar mampu membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali ke jalur 6–7 persen, sekaligus menjaga disiplin fiskal. ***




