POJOKSATU.id, NTT—Sosok Paulus Gregorius Afril memang luar biasa. Paskibraka Nasional 2025 asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memang anak yang ulet mengejar cita-citanya.

Tak ada istilah gengsi baginya demi membantu ibunya yang hanya berjualan bakso di kampung mereka di NTT.

Afril tak malu berjualan bakso, jagung bakar dan nyambi menjadi tukang ojek di akhir pekan.

Afril melakukan semua ini demi mencari uang tambahan demi menafkai keluarganya yang sederhana di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Ia anak pertama dari enam bersaudara.

Baca Juga: Tenggat Waktu Tinggal Hitungan Hari, Masih Banyak Pemda Kesulitan Usulkan Honorer jadi PPPK Paruh Waktu, Ini Alasannya!

"Ya kadang dia juga mengojek ya sepulang sekolah. Dia kalau malam Minggu jualan jagung bakar," ungkap ibu Afril, Magdalena Juliana, dilansir Tribun Gorontalo, Senin (18/8).

Semua usaha ini dilakukan Afril agar keluarganya terbantu. Namun kesibukan di luar sekolah membantu ayah dan ibunya ini tak membuat nilai Afril jeblok di sekolah.

Bahkan Afril termasuk sebagai siswa berprestasi secara akademik atau non-akademik. Afril sering mendapat peringkat di sekolah bahkan masuk lima besar.

Paulus Gregorius Afrizal merupakan siswa kelas XI di SMA Katolik Frateran (Smater) Maumere, Sikka, NTT.

Baca Juga: Bupati Landak Karolin soal Oknum ASN Merokok saat Upacara 17 Agustus: Akan Disanksi

Juliana pun merasa bangga saat Afril lolos jadi Paskibraka Nasional 2025 dan menjadi pengibar bendera di Istana Negara.

Selama proses seleksi ia menceritakan bahwa putranya mendapat bantuan dari berbagai pihak selama mengikuti seleksi.

Gadai HP dan Jual Kompor

Demi membantu cita-cita anaknya menjadi anggota Paskibraka Nasional, gadai HP dan menjual kompor gas pun dia lakukan.

Juliana mengaku sempat kebingungan soal biaya Paulus yang hendak berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seleksi di tingkat nasional.

Baca Juga: Keteguhan Hati Kevin Silaban Komandan Paskibra Humbahas Tinggalkan Jenazah Ayahnya yang Baru Meninggal

"Setelah lolos provinsi, saya bingung biaya untuk ke nasional. Ada satu kali medical check up yang harus diulang di Maumere. Biayanya Rp 175.000, sementara kami tidak punya uang sama sekali," katanya.

Juliana tak ingin mengecewakan putranya.

Ia tetap mengusahakan biaya tersebut dengan menjual kompor milik mereka yang ada di rumah.

"Malam itu saya bilang ke Afril, 'Kita tidak punya lagi apa-apa yang bisa dijual. Biar mama jual kompor saja'. Besok paginya saya antar dia ke sekolah, lalu saya ke teman untuk menawarkan kompor," katanya.

Akhirnya, Juliana mendapatkan pinjaman uang.

Belum selesai sampai di situ, Juliana juga sempat menggadaikan ponsel milik adik Afril.

"Waktu mau berangkat ke Kupang, kami hanya punya bantuan Rp 500.000 dari Kesbangpol Kabupaten Sikka, tapi itu tidak cukup. Saya terpaksa pinjam uang lagi dan menggadai HP adik Afril, yang penting bisa sampai Kupang," ujar dia.

Kini Paulus Gregorius Afril telah berhasil mengangkat marwah keluarganya dengan menjadi anggota Paskibraka Nasional tahun 2025.***