POJOKSATU.ID – Belum lama ini, publik tengah dihebohkan dengan salah satu buku karya Novita WD.
Yang mana, buku berjudul Dark Psychology tulisan wanita tersebut dituding tidak berkualitas baik dari segi tulisan hingga kerangka berpikirnya.
Bukan tanpa sebab, hal ini terjadi usai komunitas penggemar literatur baru mengetahui bahwa penulis buku tersebut tidak ahli di bidangnya.
Baca Juga: Kisah Ferdiansyah: Buktikan Disabilitas Bukan Halangan untuk Berprestasi di Dunia Kerja
Berdasarkan informasi beredar, Novita WD yang dikenal sebagai penulis buku Dark Psychology ternyata bukan psikolog.
Sebagaimana dilansir Pojoksatu.id dari akun media sosial platform X milik @happyaiss pada Senin (13/10/2025).
Dalam unggahannya, penulis buku bernuansa mental health itu dituding tidak menuliskan karyanya secara pribadi.
Baca Juga: Fitur LAKSA+ Resmi Diluncurkan, Warga Disabilitas Kini Punya Kanal Pengaduan Ramah Akses
Sebab, di bagian referensi, Novita WD mengambil beragam pembahasan dari artikel daring untuk dijadikannya sebagai karya baru.
“Judul psikologi, ditulis oleh bukan psikolog, daftar pustakanya halodoc hellosehat siloamhospital dan buku2 yg bukan teori psikologis,” jelasnya.
Lebih lanjut, dalam buku Dark Psychology ternyata juga memuat penggalan profil singkat tentang penulis.
Baca Juga: Curug Putri Carita: Surga Tersembunyi di Balik Hutan Tropis Banten
Yang mana, Novita WD selaku penulis disebutkan hanya wanita biasa dengan latar belakang Ibu Rumah Tangga (IRT).
Kendati demikian, dirinya sudah lama berkecimpung di dunia sastra yang terhitung sudah kurang lebih 10 tahun.
“Novita WD, bukan psikolog, hanya emak-emak momong anak yang suka merefleksi diri. Sedang berproses dan belajar untuk menjadi lebih baik” tulisnya.
Baca Juga: Rano Karno: Kreativitas Siswa SMK adalah Kekuatan Masa Depan
“Mantan mahasiswi Sastra Indonesia di salah satu Universitas Yogyakarta ini juga telah selama satu dekade berkecimpung, bekerja, di dunia perbukuan,” lanjutnya.
Tentu, dalam sekejap postingan tersebut sontak ramai ditanggapi publik hingga berujung melontarkan narasi negatif.
Sebab, menurut mereka, isu sensitif yang berkaitan dengan persoalan mental seharusnya ditangani oleh ahlinya.
“1 pertanyaan sih, kok bisa publish? Bukannya penerbit tuh sangat amat selective yah buat publish buku? Apa lg bersifat edukasi,” cuit @jour$#!.
“Salah satu buku self-improvement, dafpusnya buanyak. lha ini dafpus dari buku cuman 3, curiga dia gak survey sama Sekali,” ketik @xden$#!.
“Paling males nih gue sm buku buku macem gini, yg katanya buku dengan label motivasi pake teori psikologi sedangkan penulisnya ga ada samsek background psikologis,” cuitan @inn$#!. ***



