POJOKSATU.ID – Inilah sosok Dadang Mulyadi, Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 6 Garut, Jawa Barat.

Seperti diketahui, belakangan ini nama Dadang Mulyadi tengah ramai jadi perbincangan publik di media sosial.

Bukan tanpa sebab, hal ini terjadi usai Kepsek SMAN 6 Garut tersebut memberikan pernyataan kontroversial terkait kasus bunuh diri seorang siswa, Priya Nailuredha Thoriq (16).

Baca Juga: Kepsek SMAN 6 Garut Bantah Priya Nailuredha Thoriq Bunuh Diri Gegara Dibully

Yang mana, Dadang Mulyadi menuturkan bahwa meninggalnya Priya Nailuredha Thoriq dipicu bukan karena jadi korban bullying.

Melainkan, korban nekat mengakhiri hidupnya terkait permasalahan nilai yang membuatnya tidak naik kelas.

Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun media sosial platform Facebook Kanna Cindy pada Kamis (17/7/2025).

Baca Juga: Tawuran Remaja Tewaskan Warga Cibubur, Polisi Buru Penyerang yang Diduga Warga Kranggan

Dalam unggahannya, publik ramai mencecar sikap Dadang lantaran dinilai tidak objektif dalam menanggapi kasus tersebut.

“Sumpah kepala sekolah aneh, dia bilang kalau ini semua bermulai dari muridnya yg ga naik kelas,” jelas @RohediMuchtar.

“Padahal alasan dia ga naek kelas ya karena depresi dan itu menyebabkan nilai nya turun,” lanjutnya.

Baca Juga: DOWNLOAD MODUL PPG Pedagogik 2025, PPG Angkatan II untuk Guru Agama Digelar September 2025, DIPERBARUI Sesuai Tuntutan Era Digital

“Jangankan bully, tidak naik kelas pun itu mencerminkan sekolah gagal dalam mendidik siswa,” cuit @AsepRahmatKahfi.

“Sekolah mah cuma cuci tangan biar akreditasi ga turun udah biasa wkwk,” ketikan akun @Selenax.

Seperti diketahui, deretan cecaran itu mencuat usai Dadang menyebutkan perkataan yang memicu perdebatan.

Baca Juga: Sosok Priya Nailuredha Thoriq, Siswa SMAN 6 Garut Meninggal Dunia Usai Bunuh Diri Diduga Gegara Sering Dibully

Yang mana, Kepsek SMAN 6 Garut itu menjelaskan bahwa kematian korban murni dari permasalahan keterbatasan nilai akademik.

Sebab, Priya diketahui tidak menyelesaikan beberapa tugas dari sejumlah mata pelajaran yang dibebankan.

“Sebenarnya ini bermula karena yang bersangkutan tidak naik kelas. Disebabkan ada 7 nilai mata pelajaran itu tidak tuntas,” terangnya. ***

Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:

Versi Android/ Versi iOS

Untuk mendapatkan artikel melalui saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id bisa klik link di bawah ini:

Channel Whatsapp/ Fanpage Edugov