POJOKSATU.id, JAKARTA—Kisah Aishah Prastowo bisa menjadi teladan bagi guru-guru lain di Indonesia. Meski lulusan S3 Oxford University di Inggris, dia memilih menjadi guru SMA di Sleman Yogyakarta.
Dari pengakuannya, awal mula dia terjun ke dunia pendidikan di Indonesia ternyata tak sengaja terkait kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak tahun 2020 lalu.
Aishah Prastowo kini sedang menjadi perbincangan publik, termasuk Menkeu Sri Mulyani ikut mengomentari kiprah Aishah yang kini jadi guru sekaligus kepala sekolah di SMA Praxis High School di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Baca Juga: Geger Pengakuan Aishah Prastowo Lulusan S3 Oxford Jadi Guru SMA, Menkeu Sampai Bilang Terima Kasih
SMA yang dia dirikan berbasis STEAM atau Science, Technology, Engineering, Art.
“Sebenarnya saya terjun ke dunia pendidikan bisa dibilang tidak sengaja. Karena waktu itu ada pandemi, terus peluang yang besar saat itu menjadi pengajar secara online,” ujarnya dikutip dari laman LPDP, Jumat (27/6/2025).
“Yang saya ajarkan itu juga masih terkait dengan dunia penelitian. Jadi ketika merefleksikan pengalaman tersebut ternyata saya tetap mencintai dunia penelitian, tetapi love language-nya sekarang berbeda saja,” sebutnya lagi.
Di masa Covid-19 yang dimulai tahun 2020 lalu, Aishah banyak disibukkan dengan berbagai aktivisme pengajaran.
Mulai dari membuka kelas belajar, pengajar academic writing untuk level mahasiswa, sempat mengajar penelitian dan penulisan ilmiah untuk penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) dan termasuk konsultan untuk mahasiswa yang melanjutkan studi ke luar negeri.
Dirinya juga terlibat pengajaran kepada anak-anak SMP dan SMA yang mengikuti lomba penelitian nasional macam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Interaksi daring maupun luring dengan para anak didik dari berbagai wilayah Indonesia cukup memberikan pengalaman lebih luas di dunia pengajaran dan mentorship penelitian.
Aishah kemudian bergabung di Alta Global School sebagai guru penelitian dan masih aktif sampai tulisan ini dirilis, dan tawaran merintis sekolah alternatif datang pada 2024.
Ini sekaligus sebuah keputusan penting bagi dirinya, apakah benar-benar ingin terjun lebih serius sebagai guru, ataukah lanjut sebagai peneliti dengan mengambil post doctoral.
“Praxis High School sendiri adalah sekolah setingkat SMA. Sebelumnya kami adalah Praxis Academy, itu semacam IT bootcamp. Jadi visinya itu memang menjembatani antara lulusan kuliah atau dunia akademik dengan dunia kerja,” jelas Aishah.
“Jangan takut atau merasa minder, jangan down. Kalau misalnya dirasa belum memberi impact yang besar, ya justru impact-impact yang kecil ini yang bisa lebih dirasakan manfaatnya buat orang-orang sekitar” pesannya.
Jenjang Pendidikan Aishah
Aishah merupakan lulusan S1 Teknik Fisika UGM Yogyakarta. Aishah mengambil S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Université Paris Descartes pada 2011 dengan beasiswa dari pemerintah Prancis. Lalu mengambil doktor atau S3 di Oxford University.
Aishah adalah salah satu penerima beasiswa LPDP generasi pertama pada 2014 di Oxford.
Merasa tanggung dengan penelitian S2 benar-benar membawa Aishah untuk mengambil pendidikan tertinggi di usia yang relatif muda untuk ukuran mahasiswa doktor, belum genap 30 tahun.
Tepat kala itu LPDP baru memulai layanannya pada 2013 dan Aishah mendapat informasi Beasiswa LPDP dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris. Aishah resmi menjadi mahasiswi Oxford pada 2014.
Tak lama setelah wisuda S3 dari Oxford, Aishah melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih di Indonesia.***




