POJOKSATU.ID – Inilah sosok Abdul Fatah, Kepala Sekolah (Kepsek) SMKN 4 Bojonegoro, Jawa Timur.
Seperti diketahui, nama Abdul Fatah belakangan ini tengah ramai jadi perbincangan publik di media sosial.
Bukan tanpa sebab, hal ini terjadi usai Kepsek SMKN 4 Bojonegoro itu viral dituding melakukan tindak pidana berupa korupsi.
Yang mana, dugaan korupsi itu mencuat tidak lama setelah Abdul Fatah diduga gelapkan dana wisuda para murid.
Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun media sosial platform TikTok milik @infojatim.0 pada Minggu (18/5/2025).
Dalam unggahannya, publik ramai menyoroti kasus dugaan korupsi yang menyeret oknum Kepsek SMKN 4 Bojonegoro.
Bahkan, beberapa di antaranya turut menghujat sosok Abdul lantaran dituding telah melakukan tindak pidana.
“Katanya sekolah negeri gratis? Tapi ketika diminta iuran dan dibayar dengan minta bukti kwitansi tidak berani mengeluarkan,” cuit @Q.
“Ibu saya pun kecewa menyekolahkan adik saya disitu, padahal sudah jelas2 waktu kumpulan para murid,” ketik @intanfairiska.
Baca Juga: Tokoh Muda Karawang Ini Kecewa, Anggota Dewan Gerindra Bungkam Saat Dedi Mulyadi Diserang
“Katanya SPP naik jadi Rp150 ribu yang setengahnya 75k tersebut untuk tabungan wisuda,” lanjutnya.
“Usut tuntas SMKN 4 Bojonegoro meresahkan telat bayar SPP tidak dikasih kartu ujian, PKL harus bayar,” cuitan akun @Tyo.a86.
Perlu diketahui, uang iuran pelaksanaan acara wisuda kelulusan ini sebelumnya terjadi sejak 2024 silam.
Baca Juga: Kasus Langka, Ganja Hidroponik di Bawah Rumah Panggung Milik Mahasiswa, Polda NTB: Pertama di Bima
Berdasarkan pengakuan siswa, mereka membayar uang kontribusi acara wisuda itu bersamaan dengan pembayaran biaya SPP.
Dari biaya SPP sebesar Rp150 ribu per bulan, pihak SMKN 4 Bojonegoro menyisihkan Rp75 ribu untuk keperluan wisuda.
Diketahui, penyisihan uang SPP tersebut ditetapkan atas dasar ketentuan yang telah disepakati antara pihak sekolah dan para murid.
Namun, pihak sekolah tiba-tiba membatalkan kesepakatan terkait penyelenggaraan acara wisuda tersebut.
Tidak hanya itu, saksi sekaligus seorang murid ini juga menuturkan bahwa uang yang seharusnya dipakai untuk keperluan wisuda justru dialokasikan untuk pembangunan sekolah. ***



