POJOKSATU.id, KARAWANG - Pemberian hibah Rp 10 Miliar Pemda Karawang ke Polda Jawa Barat terus menuai kritik. Hibah untuk pembangunan gedung parkir itu dinilai tidak tepat oleh banyak pihak.
Seperti diungkapkan Ketua DPC Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Kabupaten Karawang, Novi Nur Agustianti, lewat pesan tertulis yang dikirim ke redaksi pojoksatu, Sabtu (11/02/23).
"Merespon hingar-bingar pemberian hibah Pemkab Karawang ke Polda Jabar, maka Repdem memiliki beberapa pemikiran hasil dari rapat Pengurus yang dilaksanakan pada hari Kamis, 9 Februari 2023, di Sekretariat Repdem Karawang," ujar Novi.
Beberapa point hasil rapat pengurus Repdem tersebut diantaranya Repdem sangat menyesalkan kebijakan Pemda Karawang tersebut dan mengajak seluruh komponen rakyat untuk meminta tanggungjawab dari pemda Karawang dengan berbasis kajian utuh dan obyektif.
“Hibah Pemkab ke Polda bukanlah persoalan sederhana. Sebagai rakyat Karawang, sejujurnya sangat sakit hati, sebab dalam kondisi banyak kebutuhan program pembangunan, tiba-tiba Pemkab menggelontorkan anggaran lumayan besar untuk institusi di luar Karawang," kata Novi.
Jika dilihat dari mekanisme dan payung hukum, menurut Novi, memang tidak ada yang dilabrak. Tapi dari segi kepatutan, bisa dibilang sangat tidak patut. Mencederai amanah publik.
"Cellica (Bupati Karawang) kehilangan orientasi kepemimpinan
Sebagai pemimpin hasil pilihan rakyat Karawang, maka sejak dilantik, Cellica haruslah bertanggungjawab terhadap rakyat Karawang," katanya.
Menurut Novi, Cellica pasti memiliki orientasi pembangunan yang tertuang dalam visi-misi dan RPJMD. Indikator sederhana untuk mengukur keberhasilan adalah IPM yang meliputi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Kerakyatan.
"Lalu apa jadinya jika Pemkab menerbangkan anggaran ke pihak lain. Sementara di Karawang sendiri masih dihadapkan pada ratusan sekolah tidak layak / rusak, kemiskinan ekstrem, pengangguran merebak, dan infrastruktur transportasi yg amburadul?”
Tidak memiliki sense of crisis," katanya.
Padahal, kata Novi, Cellica sudah memimpin Karawang hampir 10 tahun, ditambah jabatan PLT, semestinya sense of Crisis beliau makin terasah.
Makin peka terhadap keluhan rakyatnya. Saat ini, Repdem malah melihat sebaliknya, seperti sudah ogah-ogahan ngurus Karawang, dan sudah berpuas diri dengan kegiatan-kegiatan ceremonial. Sangat Ironis. Bukannya makin lama makin On Fire, tapi malah anti klimaks," ujar Novi.
Novi menilai, sejauh ini belum ada kebijakan atau produk kepemimpinan yang monumental menjelang akhir kepemimpinan Cellica.
“Entah apa memory rakyat Karawang nanti setelah Cellica lengser dan kembali ke Bandung. Repdem tidaklah ridho esok lusa penerus estafet kepemimpinan Karawang malah diwariskan persoalan-persoalan rakyat yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh Cellica saat menjabat," katanya.
Repdem pun mengajak semua elemen rakyat untuk mengkritisi kasus hibah ini pada porsinya. Tidak berasumsi pada politis atau kepentingan kekuasaan ansich.
“Hibah Pemkab Karawang ke Polda Jabar adalah persoalan antara rakyat Karawang dengan kebijakan dan cara pikir Pemimpinnya yang hari ini berkuasa. tidak bicara soal popularitas dan elektabilitas Cellica dan pihak-pihak kontra di tahun politik. Stop sampai disitu," tandas Novi. (Ega Nugraha/Pojoksatu)




