POJOKSATU.ID - Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok pemimpin yang memiliki pandangan jauh ke depan dan kemampuan membaca perubahan zaman dengan cepat.

Penilaian tersebut disampaikannya saat menanggapi keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace, sebuah inisiatif perdamaian internasional yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut Nasaruddin, langkah tersebut mencerminkan visi strategis Presiden Prabowo dalam memposisikan Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.

Baca Juga: Mentan Amran Lantik 55 Pejabat, Tegaskan Meritokrasi dan Akselerasi Produksi Menuju Ekspor

Ia menyebut, kebijakan itu menunjukkan orientasi kepemimpinan yang tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan bangsa dalam konteks masa depan.

Nasaruddin mengungkapkan, Kementerian Agama turut aktif menyosialisasikan makna dan tujuan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace.

Upaya itu dilakukan melalui berbagai forum, termasuk seminar internasional dan penyusunan makalah ilmiah yang melibatkan akademisi serta tokoh lintas negara.

Baca Juga: Purbaya Ngakak Lihat Anak Buah Pakai Rompi Oranye! 'Bagus Nggak Rompinya?' Geger di Kemenkeu

Dari proses sosialisasi tersebut, ia melihat adanya perubahan persepsi di berbagai kalangan.

Sejumlah kesalahpahaman yang sebelumnya muncul perlahan mulai diluruskan, dan respons yang diterima pun cenderung positif.

“Dari diskusi-diskusi itu, kami melihat banyak pihak mulai memahami posisi Indonesia dan tujuan kebijakan ini,” ujar Nasaruddin, dikutip pojoksatu.id dari instagram @nowdots.

Baca Juga: Pengunduh Video Terbaik di Tahun 2026, Alat Online dan Desktop Terbaik untuk Mengunduh Video dan Musik

Ia menilai, keputusan Prabowo bergabung dalam inisiatif perdamaian global tersebut bukanlah langkah spontan, melainkan bagian dari perhitungan strategis yang matang.

Menurutnya, posisi Indonesia saat ini sangat penting dalam percaturan internasional, baik dari sisi geopolitik maupun diplomasi kemanusiaan.

Nasaruddin bahkan mengibaratkan langkah tersebut dengan Perjanjian Hudaibiyah yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Pada masanya, perjanjian itu sempat menimbulkan keraguan dan salah paham di kalangan umat.

Namun, dalam perjalanan sejarah, Hudaibiyah justru menjadi pintu masuk bagi kebaikan dan kemenangan yang lebih besar.

Baca Juga: Penarikan Data sampai Tanggal 15 Jadi Penentu TPG Guru, Ini Jadwal Resmi, Tahapan Validasi, dan Kesalahan yang Sering Terjadi

Analogi tersebut, kata Nasaruddin, relevan untuk menggambarkan kebijakan strategis yang pada awalnya belum tentu dipahami semua pihak, tetapi berpotensi membawa manfaat jangka panjang bagi bangsa.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menyikapi kebijakan ini dengan pikiran terbuka dan penuh prasangka baik.

Nasaruddin menekankan pentingnya kepercayaan publik terhadap langkah-langkah strategis pemerintah, terutama dalam urusan hubungan internasional.

Baca Juga: Miris! 1.800 Honorer Tangerang Selatan Terancam, 82 Orang Sudah Dirumahkan

Ia juga mengajak masyarakat untuk mendoakan agar keputusan tersebut benar-benar menjadi jalan terbaik bagi Indonesia, sekaligus memperkuat peran negara ini sebagai aktor penting dalam upaya perdamaian dunia.

Dengan dinamika global yang kian kompleks, Nasaruddin menilai kepemimpinan yang mampu membaca arah zaman menjadi kebutuhan mendesak.

Ia optimistis, langkah-langkah yang diambil Presiden Prabowo akan membawa Indonesia pada posisi yang lebih strategis dan berpengaruh di masa mendatang.***