POJOKSATU.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan normal pasca Lebaran.

Namun di balik itu, muncul fenomena baru, yaitu banyaknya sisa makanan siswa yang tak habis dikonsumsi.

Pelaksanaan program MBG kembali menggunakan menu basah sejak 31 Maret 2026, setelah sebelumnya disesuaikan selama Ramadan dan libur Lebaran.

Baca Juga: Wajah Baru Kota Medan Disiapkan, Trotoar Tak Lagi Seragam dan Naik Kelas

Namun, di tengah pelaksanaannya, muncul sorotan terkait banyaknya makanan yang tidak habis dimakan oleh siswa.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah guru mengumpulkan sisa makanan dari wadah makan siswa atau ompreng.

Dalam video tersebut, tampak makanan yang masih tersisa dikumpulkan dalam wadah besar.

Baca Juga: Pasien Membludak, RSUD Pirngadi Medan Tambah Kapasitas dan Siapkan Gedung Baru di Peringatan Hari Ginjal Sedunia

Sisa makanan itu tidak langsung dibuang, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Salah satu guru dalam video menyebut langkah ini dilakukan agar makanan tidak terbuang sia-sia.

“Daripada dibuang, dikumpulkan untuk pakan bebek,” ujarnya.

Fenomena ini memunculkan perhatian terkait potensi pemborosan makanan dalam program MBG.

Baca Juga: Info GTK Belum Valid Meski Sudah April? Ini Analisis Mendalam Penyebab dan Cara Mempercepat Terbitnya SKTP

Meski bertujuan meningkatkan gizi siswa, kenyataannya tidak semua makanan dikonsumsi hingga habis.

Hal ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program, terutama terkait kebiasaan makan siswa dan penyesuaian porsi.

Video tersebut pun memicu beragam komentar dari warganet.

Sebagian menyayangkan masih banyaknya makanan yang terbuang, sementara lainnya menilai langkah guru memanfaatkan sisa makanan sebagai solusi yang bijak.

Baca Juga: Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari Trump dan Ogah Ikut Mediasi di Islamabad, Konflik Timur Tengah Kian Memanas

Ada pula yang mengusulkan agar siswa diperbolehkan membawa pulang makanan yang tidak habis.

Namun, ada juga kekhawatiran terkait kualitas makanan jika disimpan terlalu lama.

Fenomena ini dinilai menjadi bahan evaluasi dalam program MBG ke depan. Selain memastikan kualitas dan gizi makanan, penting juga memperhatikan pola konsumsi siswa agar tidak terjadi pemborosan. ***