POJOKSATU.ID — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Sulawesi Tengah, melaporkan kasus pencurian kabel sirine peringatan dini tsunami (Early Warning System/EWS) ke pihak kepolisian.
Kejadian yang disebut sangat membahayakan keselamatan warga ini terungkap setelah rekaman CCTV menunjukkan seorang pria memanjat menara sirine dan memotong kabel yang menjadi komponen vital alat tersebut.
"Iya benar, kami sudah laporkan ke pihak kepolisian," kata Kabid Kedaruratan BPBD Palu, Irfan Suebo, Kamis (27/11).
Baca Juga: Jika BLT Kesra Tak Lanjut 2026, Ancaman Baru bagi Daya Beli dan Stabilitas Ekonomi Rakyat
Kabid Kedaruratan BPBD Palu, Irfan Suebo, mengonfirmasi peristiwa itu.
Pelaku, yang belum teridentifikasi, memanjat menara sirine di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, lalu memotong kabel sepanjang sekitar enam meter.
Baca Juga: Banyak Peserta Gugur UKPPPG Karena Siswa Pasif! Begini Cara Mengatasinya
Kejadian ini baru disadari saat BPBD melakukan uji coba rutin.
Saat pengujian, sirine di titik Kampung Lere tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Setelah dilakukan pengecekan, tim menemukan kabel yang menghubungkan boks utama ke jaringan bawah tanah telah putus akibat digunting oleh pelaku.
"Cuma satu tiang yang ada di Kelurahan Lere. Pelaku memotong kabel dari box hingga kabel bawah tanah," kata Irfan.
Baca Juga: Partai Tetap Raja, Rakyat Cuma Penonton, MK Resmi Tolak Gugatan Rakyat Bisa Pecat DPR
Menurut Irfan, pencurian ini bukan hanya merusak alat, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat.
Sirine tsunami merupakan instrumen penting yang memberi peringatan dini apabila terjadi gempa berpotensi tsunami.
Terlebih lagi, Palu merupakan wilayah yang memiliki sejarah bencana besar, termasuk tragedi gempa dan tsunami dahsyat pada 2018 yang menelan ribuan korban jiwa.
Baca Juga: BLT Kesra 2026, Ambang Keputusan Pemerintah Masih Evaluasi Anggaran dan Data
"Pencurian ini sangat disayangkan mengingat pentingnya fungsi alat tersebut. Di Teluk Palu ini, kita punya pengalaman kelam tentang tsunami. Sirine menjadi alat penyelamat ketika detik-detik krisis terjadi," tegas Irfan.
Ia mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
Pada bencana 2018, alat pendeteksi tsunami berbasis sensor laut juga gagal berfungsi karena baterainya hilang dicuri.
Kondisi tersebut menghambat peringatan dini dan memperparah dampak bencana.
BPBD Palu menyebutkan bahwa sirine peringatan dini di Kota Palu merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Baca Juga: Santri Selamat, Asrama Hilang! Longsor Sungai Batee Iliek Hantam Gedung Pesantren
Terdapat tiga titik pemasangan sirine, yakni di Kelurahan Lere, Silae, dan Talise.
Dengan adanya pencurian ini, satu dari tiga titik tersebut kini tidak berfungsi optimal dan membutuhkan perbaikan segera.
BPBD berharap kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini mengingat dampaknya sangat luas dan membahayakan keselamatan publik.
Selain itu, edukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga fasilitas kebencanaan juga kembali ditekankan agar insiden serupa tidak terulang.
Pencurian komponen sistem peringatan dini bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga dapat mengakibatkan hilangnya nyawa jika bencana benar-benar terjadi tanpa peringatan.
Oleh karena itu, BPBD meminta seluruh pihak meningkatkan kepedulian dalam menjaga sarana mitigasi bencana.***




