POJOKSATU.id, JAKARTA-- Ritual Jokowi menginjak kepala kerbau di Lampung memantik tafsir politik bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mampu bersaing dengan PDIP.

PSI yang kini dibinanya siap menantang dan menumbangkan dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Poin menohok tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto.

Menurutnya, penggunaan simbol kepala kerbau yang diinjak kaki Jokowi dalam safari politiknya di Lampung itu tidak bisa dianggap sekadar prosesi adat biasa.

Baca Juga: Meriah! Kapolres Cup Kicau Mania 2026 Jadi Ajang Prestasi dan Kebersamaan Pecinta Burung di Karawang

"Simbolis kepala kerbau yang digunakan dalam ritual dan identik dengan logo PDIP, banyak tafsir yang ingin Jokowi sampaikan," kata Hari kepada RMOL, Minggu, 28 Juni 2026.

Hari menganalisis, dengan posisi baru Jokowi sebagai Dewan Pembina PSI, manuver teatrikal tersebut merupakan bentuk komunikasi politik tingkat tinggi terkait peta persaingan dengan partai besutan Megawati Soekarnoputri.

Secara vulgar, Hari mengibaratkan ritual tersebut seperti pertarungan antara kekuatan baru melawan sang petahana.

"Dengan posisi Jokowi sebagai pembina PSI, bisa saja itu bagian dari bahasa politik bahwa PSI mampu bersaing dengan PDIP,” jelasnya.

Baca Juga: Berkaca dari Kematian Dokter Icha, Bupati TTU Ungkap Oknum DPRD Tenggak Miras Saat Reses

“Atau jelasnya Gajah mampu menginjak Banteng. Jadi Jokowi ingin mengatakan bahwa PSI mampu mengatasi dan bersaing dengan PDIP," terang Hari blak-blakan.

Meski membaca adanya sinyal konfrontasi dan unjuk kekuatan, Hari tidak menampik adanya sisi psikologis lain di balik pilihan simbol tersebut.

Ada kemungkinan tersisa romantisasi masa lalu antara mantan walikota Solo itu dengan partai yang telah membesarkan namanya hingga menjadi presiden dua periode.

"Dengan kata lain, Jokowi sejujurnya mungkin masih sayang dengan PDIP, sehingga simbolnya masih digunakan dalam acara ritualnya," kata Hari.***