POJOKSATU.ID - Gelombang banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam sepekan terakhir menjadi pengingat keras bahwa ancaman bencana hidrometeorologi semakin nyata.

Menyikapi kondisi itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta semua pihak di Sumsel meningkatkan kewaspadaan dan memperketat mitigasi untuk mencegah bencana serupa terjadi di wilayahnya.

Baca Juga: UT Siapkan 20 Ribu Beasiswa 2025, Ini Berbagai Jenis Beasiswanya, Mulai KIP Kuliah hingga Khusus Wartawan

Menurut Herman Deru, apa yang terjadi di ketiga provinsi tersebut harus dijadikan pelajaran penting.

Ia menekankan bahwa Sumsel tidak boleh merasa aman meski sejauh ini belum menghadapi bencana besar.

“Kita belajar dari Aceh, Sumut, dan Sumbar. Jangan sampai ada kejadian besar baru kita sibuk. Mitigasi harus diperketat sejak sekarang,” ujarnya dalam keterangan resmi. dikutip pojoksatu.id dari (Kompas.com)

Baca Juga: Yuk Catat! Daftar Lengkap Hari Libur Nasional Indonesia Tahun 2026

Ia mengakui bahwa kondisi geografis Sumsel yang banyak dilintasi sungai besar, daerah rawa, serta wilayah perbukitan membuat provinsi ini tetap berisiko mengalami banjir, longsor, dan genangan.

Apalagi, curah hujan diprediksi meningkat hingga awal 2026.

Karena itu, ia menginstruksikan seluruh pemda untuk mengevaluasi ulang peta rawan bencana, memperbaiki sistem drainase, serta mempercepat program rehabilitasi lahan dan normalisasi sungai.

Herman Deru juga menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi.

Baca Juga: Pendaftar Membludak, Turnamen Layangan Aduan Piala Ketua KOOD Cipayung jadi Magnet Pecinta Tradisi Jabodetabek

BPBD diminta memperkuat sistem peringatan dini, sementara dinas teknis diminta memperketat pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Ia menegaskan bahwa langkah-langkah antisipasi harus berjalan simultan mulai dari hulu hingga hilir.

Di sisi lain, lembaga lingkungan seperti WALHI turut mengingatkan bahwa bencana banjir di Pulau Sumatera bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem, melainkan juga buah dari kerusakan ekologis yang berlangsung lama.

Baca Juga: IDI Kabupaten Bogor Dorong Dokter Tingkatkan Ketangkasan Ilmiah di Tengah Tantangan Layanan Kesehatan

Menurut WALHI, alih fungsi lahan, deforestasi, dan pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung alam menjadi penyebab utama.

“Hari ini Aceh yang tenggelam, besok bisa Sumsel kalau kebijakan tak berubah,” ujar perwakilannya. 

Pernyataan itu turut mempertegas pandangan bahwa mitigasi tidak cukup dengan peringatan dini, tetapi harus menyentuh akar masalah tata ruang yang bermasalah dan pengelolaan lingkungan yang lemah.

Baca Juga: Hindari Instansi Ini Jika Tak Mau SKB Non CAT dalam Seleksi CPNS 2026!

Sumsel sendiri selama ini dikenal memiliki kawasan hutan yang luas, namun tantangan deforestasi dan kerusakan DAS masih menjadi persoalan.

Selain itu, Gubernur meminta masyarakat berperan aktif menjaga lingkungan sekitar.

Langkah kecil seperti tidak membuang sampah ke sungai, menjaga daerah resapan air, dan menghindari pembangunan rumah di wilayah rawan longsor disebut dapat mengurangi risiko secara signifikan.

Menurutnya, upaya mitigasi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan warga.

Pemprov Sumsel juga menyiapkan peningkatan kapasitas tanggap darurat, termasuk memastikan kesiapan posko, alat berat, dan jalur evakuasi.

Baca Juga: CPNS Lulusan SLTA Tak Perlu Cek Fisik, Ini Daftar Formasi Tanpa Syarat Tinggi Badan Berdasarkan 2024

Pemerintah daerah diminta melakukan simulasi rutin, terutama di daerah yang rentan. “Kita tidak ingin gagap saat bencana datang. Semua harus siap,” tegas Herman Deru. 

Bencana besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar telah membuka mata banyak pihak bahwa cuaca ekstrem bukan lagi ancaman musiman, tetapi fenomena yang akan terus berulang jika tidak diimbangi pengelolaan lingkungan yang baik.

Bagi Sumsel, ini adalah kesempatan untuk memperkuat benteng mitigasi sebelum terlambat.***