POJOKSATU.id, MEDAN - Terlepas dari pagelaran F1H2O, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah bersama IMI Sumut sedang berupaya membawa kembali World Rally Championship (WRC). WRC adalah kejuaraan reli tertinggi di dunia, Sumut sudah pernah menjadi tuan rumah WRC pada 1996 dan 1997.

Dijelaskannya juga alasan pihaknya menginginkan WRC kembali digelar di Sumut, karena berdampak untuk negara, khususnya promosi wisata pada daerah penyelenggara dan perputaran ekonomi.

Di tahun 1996-1997, Yayasan Reli selaku pelaksana dan Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan riset putaran uang saat berlangsungnya WRC. Dari kegiatan lebih kurang sekitar dua minggu, perputaran uang hampir Rp 50 miliar lebih.

“Pada tahun itu, perputaran uangnya saja segitu. Ramainya orang datang ke Sumut. Jika hal itu kembali terulang, maka tanpa repot-repot, promosi wisata daerah otomatis,” ujarnya.

“Bahkan, Playstation 1 (konsol gim) saat itu ada pilihan gim reli mereka, Indonesia North Sumatera. Itu tanpa bayar, masuk jadi gim. Untuk otomotif, peringkat pertama secara viewer di televisi itu memang F1. Kedua adalah reli untuk roda empat,” ujar Ijeck.

Harun juga menambahkan, selain WRC IMI juga akan menghadirkan Sprint Rally Sumut pada 19 Maret dan pada 6-7 Mei menghadirkan Kejuaraan Nasional Rally putaran pertama. Dilanjutkan tanggal 23-25 September Asia Pasific Rally seri kedua dan 24-26 November Asian Pasific Rally seri ketiga.

“Selain itu juga akan ada dua kejuaraan balapan roda dua, diantaranya Motoprix pada 21 Mei dan Drag Bike pada 21 Juli serta Kejurnas Super Grasstrek,” ujarnya.

Ditambah Ijeck, di luar IMI, pihaknya juga berencana menggelar kejuaraan Jungle Traill Run di Bukit Lawang pada Mei mendatang.

“Tahun ini, Mei kita mau buat Jungle Traill Run di Bukit Lawang, kita buat skalanya internasional dengan mengundang asosiasi jungle trail run biar mereka melihat, jadi bisa sekaligus nanti mereka survei karena target kita juga bisa jadi juara dunia,” ujar Ijeck.

"Target kita menghadirkan jungle trail run dan mountain bike di Bukit Lawang kita mau buat tema-tema di setiap daerah. Daerah punya ciri khas, semoga ini bisa terealisasi karena efeknya untuk Sumatera Utara dan juga Indonesia,” tutup Ijeck. (TIK/pojoksatu)