POJOKSATU.ID - Satu tahun sudah Prabowo Subianto memimpin Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi, harga pangan yang naik.
Dan penyesuaian kebijakan di berbagai sektor, hasil survei terbaru menunjukkan publik masih menaruh kepercayaan tinggi pada sang presiden.
Menurut laporan Reuters pada Jumat 8 November 2025, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo mencapai 78 persen.
Angka itu terbilang tinggi untuk seorang presiden di tahun pertamanya, bahkan di tengah tekanan global dan ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: TPG Triwulan 4 November 2025: Non ASN Sudah Cair, ASN Masih Cemas Menatap Layar Ponsel
Hasil survei tersebut juga menempatkan Prabowo sebagai salah satu kepala negara di Asia dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi.
Bersaing dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dan PM Malaysia Anwar Ibrahim.
Sejak dilantik pada Oktober 2024, Prabowo dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang aktif turun ke lapangan.
Ia kerap memantau langsung distribusi bantuan pangan, pembangunan pabrik hilirisasi, dan proyek ketahanan pangan di berbagai daerah.
Baca Juga: Viral Sosok FN di Tiktok Disebut Pelaku Ledakan Bom SMAN 72, Siswa Aktif Pernah Pelatihan OSIS
Dalam setahun terakhir, pemerintah menggulirkan program “Desa Mandiri Pangan”.
Dan mempercepat hilirisasi pertanian yang disebut mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
Program ini pula yang disebut sebagai salah satu faktor meningkatnya kepercayaan publik.
Menariknya, tingginya kepuasan publik terjadi ketika pemerintah sedang menghadapi sejumlah tantangan berat.
Mulai dari inflasi bahan pokok, harga beras yang fluktuatif, hingga isu pengangguran muda.
Namun menurut data Indo Barometer, masyarakat menilai kebijakan pangan dan keberlanjutan infrastruktur menjadi penyeimbang yang kuat.
Publik menilai Prabowo berhasil menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Di kalangan masyarakat desa, program bantuan pangan dan subsidi pupuk masih menjadi kebijakan paling diapresiasi.
Baca Juga: Dedie Rachim Lantik 22 Kepala SD Kota Bogor, Dorong Pendidikan Berkarakter untuk Generasi Emas
Sementara di perkotaan, kebijakan stabilisasi harga BBM dan perluasan lapangan kerja digital mendapat respons positif dari kalangan muda.
Salah satu faktor penting yang menjaga tingkat kepercayaan publik adalah gaya komunikasi politik Prabowo yang berubah.
Jika dulu dikenal keras dan militeristik, kini ia tampil lebih tenang dan komunikatif.
Pidatonya yang penuh humor dan kedekatannya dengan masyarakat di berbagai kunjungan kerja dinilai berhasil membangun citra pemimpin yang “tegas tapi hangat”.
Di media sosial, unggahan kegiatan presiden kerap viral.
Mulai dari momen saat makan bersama petani, berbicara dengan anak-anak sekolah, hingga meninjau pasar tradisional.
Citra yang sebelumnya dianggap kaku kini bergeser menjadi lebih populis dan membumi.
Kementerian Sekretariat Negara bahkan mencatat peningkatan signifikan.
Dalam interaksi publik digital dengan akun resmi Presiden RI sepanjang 2025, naik hampir 200 persen dibanding tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi Prabowo yang lebih terbuka turut memperkuat loyalitas publik di era digital.
Tingkat kepuasan publik yang tinggi juga berdampak pada stabilitas politik nasional.
Koalisi pemerintahan yang dipimpin Prabowo dinilai solid tanpa gejolak besar di parlemen.
Partai-partai pendukung utama seperti Gerindra, Golkar, dan PAN tetap berada di garis kebijakan pemerintah, sementara oposisi cenderung moderat.
Baca Juga: Dishub Tangsel Dirikan Pos Pantau untuk Awasi Aktivitas Tambang
Meski angka kepuasan tinggi, masyarakat masih menunggu hasil konkret dalam dua bidang utama, kesejahteraan ekonomi dan pemberantasan korupsi.
Survei LSI menunjukkan 62 persen responden berharap pemerintah lebih fokus menekan harga pangan, sementara 57 persen menuntut perbaikan tata kelola lembaga hukum.
Bagi sebagian besar rakyat, kepercayaan kepada Prabowo bukan hanya soal figur, tapi soal harapan terhadap masa depan Indonesia yang lebih kuat dan adil.
Dan bagi sang presiden, mempertahankan kepercayaan itu mungkin akan lebih sulit daripada meraihnya.***




