POJOKSATU.id — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuat gebrakan humanis di birokrasi.
Ia memberikan izin khusus bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) di Pemprov Jabar untuk tidak masuk kantor.
Pada hari ulang tahun ibu kandungnya, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai keluarga.
Baca Juga: Pria Inisial D Lelaki Terakhir Bersama Dosen Untag Dwinanda Linchia Levi Sebelum Tewas di Hotel
Paradigma Baru Kinerja ASN
Menurut Dedi, era digital membuka kesempatan untuk mendefinisikan ulang budaya kerja ASN.
Tidak lagi cukup hanya dinilai dari ketekunan duduk di meja kantor, tetapi dari kualitas “perencanaan dan capaian output” pekerjaan.
“Saya memberikan ruang bagi ASN ketika ibunya ulang tahun, boleh tidak masuk kantor,”
ucapnya dikutip dari antara.
Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal
Dengan kebijakan ini, Dedi berharap bisa menyuntikkan dimensi kemanusiaan ke dalam rutinitas birokrasi.
Sekaligus menjaga produktivitas tanpa mengorbankan peran keluarga.
Program “Nyaah Ka Indung”
Kebijakan ini juga bersinergi dengan program “Nyaah Ka Indung” yang diluncurkan Dedi.
Melalui program tersebut, ASN bisa bekerja dari rumah (WFH) jika mereka merawat ibu yang sedang sakit.
Dedi menjelaskan bahwa di era serba digital seperti sekarang ini, pekerjaan bisa dilakukan di mana saja
termasuk di rumah saat merawat orang tua.
Lebih dari itu, program tersebut juga mendorong ASN untuk mengangkat ibu asuh dari lansia kurang mampu di lingkungan mereka.
Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal
Bahkan disebut sudah ada lebih dari 50 ribu ibu lansia yang mendapat perhatian lewat program ini.
Salah satu motivasi di balik kebijakan ini adalah kesejahteraan pegawai.
Dedi menilai, memberi ruang anggaran cuti untuk urusan keluarga (terutama ibu) dapat memperkuat kesehatan mental ASN.
Baca Juga: Pria Inisial D Lelaki Terakhir Bersama Dosen Untag Dwinanda Linchia Levi Sebelum Tewas di Hotel
Di sisi lain, kebijakan fleksibel ini juga bisa menghemat anggaran operasional kantor, seperti listrik, air, dan internet, karena kehadiran seringkali tidak sesuai beban kerja.
Dedi menegaskan bahwa kebijakan ini bukan izin sembarangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
Akan melakukan kontrol agar pekerjaan tetap terekam dan output benar-benar tercapai meski ASN tidak hadir fisik di kantor.
Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal
Gaya Dedi sebagai gubernur memang dikenal tidak biasa.
Sekda Jabar Herman Suryatman menyebut dia sebagai sosok “bawel dan rewel” dalam arti positif.
Sangat peduli dan aktif turun tangan dalam berbagai urusan birokrasi.
Keputusan memberi fleksibilitas kerja, efisiensi anggaran, dan mendobrak.
Presensi tradisional ini konsisten dengan citra Dedi sebagai pemimpin yang pragmatis, inovatif, dan dekat dengan nilai-nilai lokal.***




