POJOKSATU.id — Di tengah iklim politik Indonesia yang kerap panas dan penuh polarisasi, hubungan antara Mahfud MD dan Yusril Ihza Mahendra menghadirkan wajah lain dari dunia politik.

Keras dalam perdebatan, tetapi tetap santun dalam relasi pribadi. Keduanya menunjukkan bahwa perbedaan tajam tidak harus berujung permusuhan.

Mahfud MD secara lugas menggambarkan prinsip itu dalam sebuah pernyataan yang mencerminkan kedewasaan berpolitik.

Baca Juga: Kelistrikan Aceh Pulih, PLN Percepat Pemulihan Jaringan Distribusi

Hal itu disampaikan saat podcast bersama Yusril dan Mahfud MD

“Kami itu bisa berbeda pendapat tajam dengan orang itu tapi gak ada permusuhan pribadi,” kata Mahfud.

Pernyataan tersebut bukan sekadar teori.

Baca Juga: Pemkot Bandung Selidiki Dugaan Pungli Parkir di Kawasan Braga

Ia mencerminkan hubungan nyata Mahfud dan Yusril yang selama puluhan tahun kerap berada di posisi politik dan hukum yang berbeda, bahkan berseberangan.

Namun, perbedaan itu tidak pernah memutus komunikasi, apalagi persahabatan.

 

Perdebatan Keras, Relasi Tetap Sehat

Baca Juga: Kelistrikan Aceh Pulih, PLN Percepat Pemulihan Jaringan Distribusi

Dalam berbagai momentum nasional, Mahfud dan Yusril dikenal sebagai dua tokoh hukum tata negara yang sama-sama vokal.

Keduanya tak jarang berbeda pandangan, baik dalam soal konstitusi, politik hukum, maupun arah kebijakan negara.

Namun, Yusril menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu dibawa ke ranah personal. Ia menyampaikan sebuah analogi sederhana namun tajam.

Baca Juga: Pemkot Bandung Selidiki Dugaan Pungli Parkir di Kawasan Braga

“Politik boleh berantem, bisnis jalan terus,” ujar Yusril.

Ungkapan ini menggambarkan cara berpikir dewasa: konflik ide dan kepentingan adalah bagian dari demokrasi, tetapi relasi antarmanusia tidak boleh hancur karenanya.

Dalam praktiknya, Mahfud dan Yusril tetap saling menghormati, berdiskusi, bahkan tertawa bersama di luar arena politik.

 

Pelajaran Penting bagi Demokrasi Indonesia

Baca Juga: Pemkot Bandung Selidiki Dugaan Pungli Parkir di Kawasan Braga

Relasi Mahfud–Yusril memberikan pelajaran penting di tengah budaya politik yang sering kali menjurus pada personalisasi konflik.

Kritik kerap berubah menjadi serangan pribadi, perbedaan pandangan dianggap sebagai permusuhan, bahkan berujung pada pemutusan hubungan sosial.

Mahfud dan Yusril justru menunjukkan sebaliknya.

Baca Juga: Pemkot Bandung Selidiki Dugaan Pungli Parkir di Kawasan Braga

Keduanya sepakat bahwa demokrasi sehat membutuhkan perdebatan terbuka, namun juga membutuhkan etika. Tanpa etika, politik hanya akan melahirkan dendam berkepanjangan.

Dalam sejarahnya, mereka pernah berada di posisi yang sangat berbeda.

Mahfud pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi, Menko Polhukam, dan kerap menyampaikan kritik tajam terhadap kekuasaan.

Yusril pun pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM, serta berada di lingkar pemerintahan dalam berbagai periode.

Posisi mereka tidak selalu sejalan, tetapi komunikasi tidak pernah terputus.

Baca Juga: Ahok Ingatkan Bahaya Sawit di Hutan Papua: Flora Fauna Terancam, Bencana Mengintai Sumatera Jilid 2 Bakal Terjadi

 

Politik Bukan Soal Menang atau Kalah

Salah satu pesan kuat dari hubungan dua tokoh ini adalah bahwa politik tidak selalu tentang menang atau kalah.

Politik adalah ruang adu gagasan, bukan arena saling menjatuhkan martabat.

Baca Juga: Viral! Verrell Bramasta Singgung ‘Anak Muda Nyinyir’, Netizen Langsung Heboh

Dalam beberapa kesempatan, Yusril bahkan mengisahkan bagaimana tokoh-tokoh besar di masa lalu bisa berdebat keras di parlemen, tetapi tetap minum kopi bersama setelahnya.

Mahfud pun menegaskan bahwa politik seharusnya tidak menghapus nilai kemanusiaan.

Model relasi seperti ini kini terasa semakin langka, padahal sangat dibutuhkan di era media sosial yang mudah memantik emosi dan memperlebar jurang perbedaan.

Baca Juga: Viral! Verrell Bramasta Singgung ‘Anak Muda Nyinyir’, Netizen Langsung Heboh

 

Keteladanan untuk Generasi Muda

Bagi generasi muda, kisah Mahfud dan Yusril adalah contoh konkret bahwa menjadi kritis tidak harus menjadi kasar, dan berbeda pendapat tidak harus bermusuhan.

Politik santun bukan berarti lunak, melainkan tegas tanpa kehilangan etika.

Di saat politik nasional kerap diwarnai konflik personal dan saling serang, relasi Mahfud–Yusril menjadi pengingat bahwa demokrasi bisa berjalan sehat jika para pelakunya dewasa.

Perdebatan boleh tajam. Argumen boleh keras.

Namun persahabatan dan rasa hormat tetap harus dijaga.

Baca Juga: Kelistrikan Aceh Pulih, PLN Percepat Pemulihan Jaringan Distribusi

Itulah etika politik yang ditunjukkan Mahfud MD dan Yusril Ihza Mahendra sebuah pelajaran penting bagi masa depan demokrasi Indonesia.***