POJOKSATU.id, JAKARTA—Fakta miris diungkap Komnas HAM terkait korban demo di berbagai daerah di Indonesia yang berlangsung ricuh sejak Kamis (28/8) malam.

10 warga Indonesia dari berbagai profesi kehilangan nyawa dengan sia-sia imbas demo yang semakin meluas. Dan sebanyak 500 lebih warga ditangkap polisi.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengatakan terdapat 10 orang meninggal dunia akibat unjuk rasa di berbagai titik sejak Senin (25/8).

"Sejauh ini tercatat setidaknya 10 orang korban meninggal dunia, beberapa di antaranya diduga kuat karena mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh aparat," ucap Anis di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Selasa, 2 September 2025.

Baca Juga: Joget Malinau

Komnas HAM juga masih menyelidiki lebih lanjut keterlibatan aparat terkait meninggalnya para korban.

Anis juga mencatat sejumlah fenomena lain yang timbul dari aksi unjuk rasa akhir Agustus ini, yakni penangkapan masyarakat yang dilakukan secara semena-mena atau menyalahi peraturan, perusakan fasilitas publik, penjarahan, dan persekusi.

"Perkembangan ini tentu saja mengkhawatirkan dalam konteks yang nantinya dapat menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia," tutur Anis.

Ia menyebut Komnas HAM turut memantau perkembangan aksi unjuk rasa di kota lain. Misalnya, ada 429 warga yang ditangkap di Bandung, Jawa Barat, dan 89 warga ditangkap di Solo, Jawa Tengah.

Baca Juga: Identitas dan Pekerjaan 8 Korban Tewas Demo 4 Hari di Berbagai Daerah, Terbanyak di Makassar

Adapun daftar korban meninggal berdasarkan data Komnas hingga Selasa adalah sebagai berikut:

1. Affan Kurniawan (Jakarta)

2. Andika Lutfi Falah (Jakarta)

3. Rheza Sendy Pratama (Yogyakarta)

4. Sumari (Solo)

5. Saiful Akbar (Makassar)

6. Muhammad Akbar Basri (Makassar)

7. Sarina Wati (Makassar)

8. Rusdamdiansyah (Makassar)

9. Iko Juliant Junior (Semarang)

10. Septinus Sesa (Manokwari)

 

Penangkapan Diduga Provokator

Polisi juga menangkap aktivis sekaligus Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen di Jalan Kunci, Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin malam, 1 September 2025.

Sebelumnya polisi menangkap Khariq Anhar, mahasiswa Pertanian Universitas Riau (Unri). Dia ditangkap polisi saat berada di Bandara Soekarno Hatta pada Jumat pagi, 29 Agustus 2025, karena unggahan di media sosial yang berkaitan dengan demonstrasi buruh.

Sementara Syahdan Husein yang selama ini dikenal sebagai humas atau admin Gejayan Memanggil disebut ditangkap polisi pada Senin (1/9) pukul 23.00 WITA di Denpasar Bali.***