POJOKSATU.id, JAKARTA-- Haji Muhammad Lukminto, atau yang akrab disapa Y Digis, menjadi sosok penting di balik kesuksesan Sritex, sebuah perusahaan tekstil yang meroket dari dua kios kecil di Pasar Klewer menjadi raksasa industri di Asia Tenggara.

Namun, perjalanan Sritex tak selalu mulus. Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Juni 2013, perusahaan ini harus menghadapi tantangan besar saat dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada tahun 2024.

Pailitnya Sritex berawal dari kesulitan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utang.

Baca Juga: Viral! Wanita di Kerinci Injak-injak Al Quran Gegara Tak Diterima Kerja, Pelaku Ternyata Idap Hal Ini

Pada Maret 2021, Sritex tidak dapat membayar utang sindikasi yang mencapai 3 juta dolar AS, dan situasi ini semakin diperburuk oleh kurangnya dukungan dari kebijakan pemerintah yang dianggap tidak menguntungkan.

Peraturan Menteri Perdagangan yang merelaksasi impor komoditas tekstil juga turut memperparah keadaan, mengganggu operasional dan daya saing industri tekstil nasional.

Setelah berusaha menyusun rencana restrukturisasi dan mendapatkan persetujuan dari kreditur pada Januari 2022, Sritex tampaknya mulai melihat harapan.

Namun, pada 21 Oktober 2024, Pengadilan Negeri Niaga Semarang membatalkan perdamaian yang telah disepakati, menyatakan bahwa perusahaan tersebut lalai memenuhi kewajiban pembayaran.

Baca Juga: Grab ‘Megahedon’ 2024 Hadir dengan Konsep Baru, Diskon hingga 55 Persen hingga Grand Prize Wuling Air EV

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan Sritex. Apakah perusahaan yang pernah menjadi pionir dalam industri tekstil ini dapat bangkit dari keterpurukan?

Semua mata kini tertuju pada upaya pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyelamatkan sektor tekstil Indonesia.

Krisis ini menjadi pekerjaan rumah yang serius bagi pemerintah, dengan Presiden Prabowo Subianto diharapkan akan memberikan solusi untuk menyelamatkan sektor manufaktur, khususnya tekstil. Keberhasilan dalam menyelamatkan Sritex akan menjadi simbol harapan bagi industri tekstil nasional yang sedang menghadapi tantangan besar.

Masyarakat dan pengamat industri menunggu langkah konkret untuk mendukung Sritex, serta memastikan bahwa kebijakan yang ada dapat mendukung keberlangsungan dan daya saing industri tekstil Indonesia di kancah global.

Sritex, yang dulunya melambangkan kebanggaan industri tekstil tanah air, kini harus berjuang keras untuk kembali ke jalur kejayaan.***