POJOKSATU.id - SETIAP 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional.

Digerakkannya peringatan Hari Batik Nasional ini, karena pada 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Diketahui bahwa batik pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soeharto kepada dunia, saat ia mengikuti konfrensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bahkan sepanjang tahun 1980-an hingga 1990-an, Soeharto biasa memberikan cideramata batik kepada pemimpin negara sahabat.

Baca Juga: Podium Pertama Marc Marquez di MotoGP Jepang 2023, Modal Bagus Menuju Mandalika

Pada 1 Mei 1986, saat acara jamuan santap malam kenegaraan yang diadakan di Hotel Putri Bali, terlihat Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan dan Istrinya Nancy Reagan hadir mengenakan busana batik yang selaras dengan sang tuan rumah, Presiden Soeharto dan ibu negara Siti Hartinah.

Reagen mengenakan setelan kemeja batik bermotif Sidoluhur yang dipadukan dengan simbol negara Amerika Serikat berbentuk elang.

Sementara Nancy tampil dalam balutan gaun batik berlengan panjang berwarna merah. Kedua busana batik itu hasil rancangan Iwan Tirta.

Memang, batik rancangan Irwan Tirta selalu menjadi pilihan presiden Soeharto.

Baca Juga: UPDATE! 4.818 Sudah Daftar Seleksi Guru ASN PPPK 2023 di Kabupaten Bogor, Dadeng Wahyudi Minta Semua Kerjasama

Puncaknya, pada tahun 1994, Iwan Tirta diberi tugas oleh Presiden Soeharto untuk merancang 18 kemeja batik.

Satu akan dikenakan oleh Soeharto, sedangkan 17 lainnya dihadiahkan kepada 17 pemimpin negara-negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) 1994 di Bogor.

Para pemimpin negara yang berkostum batik dalam KTT APEC 1994 dipandang sebagai titik tertinggi keberhasilan Soeharto memperkenalkan batik hingga tingkat internasional.

Namun, tidak sedikit pula yang menyebutnya sebagai bentuk politik kebudayaan Orde Baru dalam menyeragamkan identitas bangsa melalui batik.

Baca Juga: Segini Harga BBM Terbaru, Naik Pas Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2023

Gaya kepemimpinan dan pelbagai kebijakan Soeharto memang tidak pernah jauh dari adat kebiasaan dan simbolisme kebudayaan Jawa.

Kebijakan Soeharto menjadikan batik sebagai simbol identitas kemungkinan besar dipengaruhi istrinya, Siti Hartinah.

Ibu Tien disebut sudah pandai membatik sejak gadis. Seperti putri-putri priyayi Kesultanan Solo lainnya, membatik merupakan kegiatan sehari-hari Tien.

Saat pendapatan Soeharto berasal dari gaji yang diberikan departemen keuangan Divisi Diponegoro, maka Tien mencari uang dengan berjualan batik hasil karyanya.

Baca Juga: Guntur Soekarnoputra Usulkan Jokowi Jadi Ketua Umum PDIP, Pengamat Menilai Kecil Kemungkinan Terjadi

Ketika Soeharto dikirim ke Papua Barat untuk memimpin Operasi Trikora, Tien berjualan kain batik untuk mencukupi kebutuhan dapur.

Meskipun batik cukup dekat dengan latar kehidupan keluarga Soeharto, namun peraturan berpakaian batik tidak datang langsung dari Keluarga Cendana.

Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, justru orang pertama yang menetapkan batik lengan panjang sebagai pakaian resmi laki-laki pada 14 Juli 1972. Namun, kebijakan ini hanya berlaku di wilayah Jakarta.

Ali memperkenalkan batik sebagai pengganti pakaian resmi Barat yang biasanya terdiri dari kemeja dan setelan jas. Pemakaian bahan jas dinilai tidak lagi ideal untuk kondisi iklim Jakarta yang panas.

Baca Juga: Hengkang dari YG Entertainment, G Dragon Dikabarkan Bergabung dengan Warner Music

Selain itu, harga pakaian Barat cenderung lebih mahal sehingga Ali merasa perlu mencari alternatif pakaian yang terjangkau bagi setiap pegawai negeri.

Kebijakan Ali sedikit banyak memberi pengaruh kepada politik kebudayaan Orde Baru.

Satu tahun setelah anjuran berbusana batik berlaku di Jakarta, PT. Pos Indonesia mengeluarkan perangko serial seni batik di seluruh Indonesia.

Berkat hal ini, batik pun tidak lagi menjadi barang asing bagi penduduk di luar Pulau Jawa.

Berseragam batik ala Orde Baru semakin populer tatkala Soeharto beserta keluarganya sering terlihat berkumpul mengenakan kain batik yang sama.

Baca Juga: Di Hari Kesaktian Pancasila, Sejarawan Sebut Rakyat Butuh Teladan Jaga Pancasila

Tidak jarang kebersamaan tersebut diekspos besar-besaran oleh media cetak dan televisi sebagai bagian narasi batik-isasi secara nasional.

Pada tahun 2023, merupakan tahun ke-14 dirayakannya hari batik nasional setelah pada tahun 2009 lalu di resmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia.

Batik adalah salah satu warisan budaya yang didefinisikan sebagai sebuah teknik, simbol, serta kebudayaan terkait teknik mewarnai katun dan sutra dengan tangan yang berasal dari Indonesia.

Baca Juga: Tak Peduli Dikatakan Sombong, Megawati dan Kader PDIP Tak Setuju Prabowo-Ganjar di Pilpres 2024

Selanjutnya, Hari Batik Nasional ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2009. Keppres ini diteken pada tanggal 17 November 2009. ***