POJOKSATU.id - Sejarah dan cerita rakyat di balik Curug Citambur, pemandangan negeri dongeng dari rumah Abah Jajang
Tidak banyak yang tahu ternyata ada sejarah dan cerita rakyat di balik Curug Citambur, pemandangan depan rumah Abah Jajang Cianjur.
Rumah Abah Jajang Cianjur viral di media sosial setelah ditawar Rp 2,5 miliar.
Padahal rumah cuma berukuran 5 x 9 meter dan bukan rumah permanen.
Melainkan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu dengan dinding anyaman bambu.
Penawaran fantastis pembeli rumah Abah Jajang Cianjur itu berasal dari seseorang warga Jakarta.
BACA JUGA:
Rumah Abah Jajang Dimana, Rute Lokasi dan 5 Fakta Rumah Kayu View Curug Citambur
Alasannya, karena rumah itu memiliki pemandangan Curug Citambur bak negeri dongeng.
Akan tetapi tawaran itu dengan tegas ditolak dan tak membua Abah Jajang tergiur.
Kisah Romantis dan amanah rumah Abah Jajang Cianjur
Abah Jajang sebelumnya tidak tinggal di rumah dengan pemandangan Curug Citambur itu.
Melainkan di sisi lain dengan jarak sekitar 20 meter.
Akan tetapi, rumah miliknya itu kini ditinggali oleh anak tertuanya yang sudah berkeluarga.
Karena tak ingin menggangu anaknya yang sudah berumah tangga, Abah Jajang memilih membangun rumah baru.
Rumah itu dibangun pada 1995 silam dengan menghadap langsung ke Curug Citambur.
BACA JUGA:
Rute dan Lokasi Rumah Abah Jajang Curug Citambur, Bisa dari Bandung atau Cianjur
Rumah Abah Jajang bukan rumah permanen. Melainkan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu.
Sementara dindingnya merupakan dinding anyaman bambu.
Abah Jajang punya alasan sendiri sengaja memilih membangun rumah menghadap langsung Curug Citambur.
Di teras depan rumahnya itu, dia bisa bersantai dan menghabiskan masa tua bersama istrinya dengan pemandangan Curug Citambur.
Bukan hanya dengan istrinya, ia juga ingin pemandangan surga itu juga bisa dinikmati anak cucunya setiap hari.
"Sengaja Abah bikin ke arah curug biar bisa menikmati setiap hari curug. Termasuk anak dan cucu abah juga," tuturnya dikutip pojoksatu.id dari detik.com.
BACA JUGA:
Ada Kisah Romantis dan Amanah Besar di Balik Rumah Abah Jajang Cianjur Curug Citambur
Selain itu, Abah Jajang ingin menjaga amanah besar yang ditinggalkan almarhum ibunya.
Dalam amanah itu, ibunya meminta Abah Jajang agar tidak mengubah bahkan sampai memindahkan rumah panggung tersebut.
"Ditambah lagi amanah dari ibunya Abah, jangan diubah atau dipindahkan arahnya rumah," bebernya.
Sejarah dan cerita rakyat Curug Citambur
Untuk diketahui, curug merupakan bahasa Sunda yang berarti air terjun.
Secara kebahasan (bahasa Sunda), Citambur berasal dari dua suku kata.
Yakni 'ci' atau 'cai' yang berarti air dan 'tambur' yang merujuk pada salah satu jenis alat musik tabuh 'tambur'.
Menurut cerita yang berkembang, Citambur diambil karena suara curug tersebut cukup keras.
BACA JUGA:
Rekomendasi 6 Wisata Air Terjun di Cianjur Selatan The Trully Adventure, Ada Little Niagara
Saking kerasnya saat air jatuh dari atas, sampai menimbulkan bunyi seperti tambur yang sedang ditabuh.
Akan tetapi debit airnya kini sudah tidak sebesar dulu sehingga bunyi menyerupai tambur sudah tak bisa dijumpai lagi.
Sementara cerita rakyat yang dipercaya masyarakat sekitar, Curug Citambur dahulu kerap digunakan Prabu Tanjung Anginan untuk mandi.
Saat mendatangi curug tersebut, sang raja selalu dikawal pasukan dengan menabuh tambur.
Prabu Tanjung Anginan adalah raja Kerajaan Tanjung Anginan.
Pusat pemerintahan kerajaan tersebut konon berada di Kecamatan Pasirkuda, tepatnya di Desa Simpang dan Karangjaya.
BACA JUGA:
3 Wisata Air Terjun Dekat Puncak Cianjur, Lokasi dan Maps, Ada yang Airnya Hangat dan Panas loh
Hal itu diperkuat dengan adanya batu menyerupai kursi di area Curug Cirambur.
Masyarakat mempercayai di batu itu pula merupakan tempat duduk atau tempat sang raja bersemedi.
Sang raja sendiri juga dipercaya memiliki kesaktian yang tinggi.
Sayangnya, belum ada literasi atau catatan sejarah yang ditemukan untuk membuktikan hal tersebut.
Itulah informasi sejarah dan cerita rakyat di balik Curug Citambur, pemandangan negeri dongeng dari rumah Abah Jajang. (Ade GP/pojoksatu)




