POJOKSATU.id - Kelangkaan bahan bakar minyak masih menjadi momok bagi warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Batang Toru sejak hampir dua pekan terakhir ini.

Kondisi tersebut, nampaknya dimanfaatkan sebagian orang untuk menjual dengan harga yang tak normal di pedagang eceran sebesar Rp 30 ribu per liter.

Padahal biasanya, harga BBM berkisar diharga Rp 13 ribu per liternya.

Baca Juga: Relawan Gerakan Anak Negeri Jangkau Posko Terpencil Bencana di Tapanuli Selatan, Stok Obat Menipis cuma Cukup sampai 3 Hari

Kendati meroket dan mahal, warga pun terpaksa membeli lantaran jarang ditemukan BBM di SPBU maupun POM mini.

Salah seorang penjual bensin eceran, Borutupang mengatakan, kelangkaan BBM sudah hampir dua pekan lalu.

Dirinya baru bisa menjual eceran pada hari Rabu (4/12/2025). Itu pun dengan harga di luar kebiasaannya menjual.

"Kita baru jual hari ini. Kita jual Rp 30 ribu per liter. Tapi beberapa hari pasca bencana, harga minyak (BBM) ada yang jual sampai Rp 50 ribu per liter," akunya.

Baca Juga: Tapteng Berduka, Jalan Malah Ditutup Sampah dan Kayu, Warga Diminta Bayar Rp30 Ribu untuk Lewat

Biasanya, jika tidak ada kelangkaan BBM, dirinya biasa menjual dengan harga Rp 13 ribu per liter.

Namun sejak bencana melanda, BBM menjadi langka dan harganya pun mulai tinggi.

Untuk mendapatkan BBM, dirinya sudah ada yang mengirim.

Adapun untuk harga yang ditawarkan dari pengepul sebesar Rp 26 ribu perliter.

"Iya disana nya Rp 26 ribu perliter dan kita jual Rp 30 ribu. Ngambil untung Rp 4 ribu saja," tambahnya.

Adapun untuk pasokan dijatah sebanyak tiga jerigen dalam satu pengiriman.

"Katanya sih, kiriman dari Kota Dumai sana. Jadi harganya mahal, mungkin karena ada ongkos kirimnya," tambahnya.

Kondisi ini pula yang dialami relawan Gerakan Anak Negeri yang terpaksa membeli BBM dengan harga yang tak wajar tersebut.

Baca Juga: Heboh! Batang Kayu di Pantai Pasca Banjir Ternyata Bernomor, Netizen Serius Ini Hasil Banjir atau Hasil Pesanan?

Hal itu terpaksa dilakukan untuk kebutuhan mobilisasi para relawan, terutama tim kesehatan yang menjamah setiap pelosok perkampungan.

"Ya, mau bagaimana lagi. Kondisinya seperti ini, kita terpaksa beli untuk kebutuhan mobilisasi," ucap Indra, Koordinator Relawan Gelombang 2, Muhammad Indra.***