POJOKSATU.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Di balik pelaksanaannya, Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan berbagai pembenahan agar program tersebut berjalan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Nanik Sudaryati Deyang mengungkap sejumlah langkah reformasi yang telah disiapkan selama dirinya memimpin BGN.
Baca Juga: Sambut Hari Anak Nasional, KPP DPRD Jabar Usung Aksi Nyata untuk 100 Anak di Subang
Menurutnya, perbaikan tata kelola menjadi hal penting agar program MBG benar-benar memberikan dampak bagi generasi muda Indonesia.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membentuk tim reformasi internal BGN.
Tim tersebut bertugas mengevaluasi berbagai aspek pelaksanaan program, mulai dari ketepatan penerima manfaat hingga efektivitas layanan pemenuhan gizi.
Nanik menyebut evaluasi penerima manfaat menjadi bagian penting dalam memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan awal.
Baca Juga: Bukan Cuma Main Pesawat Kertas, Anak Usia Dini Diajak Kenal Operasional Penerbangan Bareng Pertamina
Ia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui agar program MBG lebih diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan perhatian utama, seperti balita, ibu menyusui, ibu hamil, anak sekolah, serta masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Pak Presiden sudah menyetujui agar program MBG lebih ditujukan ke 3B (Balita, Busui dan Bumil), anak-anak SD-SMP serta siswa semua tingkatan sekolah di kawasan 3T," tulis Nanik.
Selain fokus pada penerima manfaat, BGN juga melakukan evaluasi terhadap ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi.
Baca Juga: How to Turn Everyday Ideas Into Shareable Visual Content
Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh unit pelayanan memenuhi standar dan aturan teknis yang telah ditetapkan.
Menurut Nanik, tidak semua SPPG telah memenuhi persyaratan sesuai petunjuk teknis, sehingga diperlukan pengawasan dan perbaikan agar kualitas layanan tetap terjaga.
Selain aspek kesehatan, program MBG juga dinilai memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.
Penyerapan bahan pangan untuk kebutuhan program turut membuka peluang bagi petani, peternak, dan pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Beberkan Alasan Batal Bubarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Nanik mencontohkan, ketika kegiatan sekolah dan pelaksanaan MBG berhenti sementara, sejumlah petani dan peternak mengalami penurunan permintaan karena hasil produksi mereka tidak terserap seperti biasanya.
"Multiplier effect (efek ganda) dari program MBG juga bisa menggerakan ekonomi bawah atau ekonomi masyarakat," tulis Nanik.
Ia menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pemberian makanan, tetapi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi sejak usia dini.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Beberkan Alasan Batal Bubarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Dalam proses pembenahan BGN, Nanik juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penguatan struktur organisasi dengan menghadirkan sejumlah pejabat profesional dari berbagai kementerian dan lembaga.
Langkah tersebut dilakukan agar BGN memiliki sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan lembaga dan mampu menjalankan program secara lebih efektif.
Sementara itu, Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan menyampaikan bahwa Nanik tetap diminta untuk ikut mengawasi perkembangan BGN setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala lembaga tersebut.
Kehadiran pengawasan dan evaluasi diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program gizi nasional agar semakin baik ke depannya.
Program besar seperti MBG tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga proses panjang untuk memastikan manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat.
Dengan pembenahan yang terus dilakukan, harapan besarnya adalah lahir generasi Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan.***




