POJOKSATU.ID - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyuarakan kekhawatirannya terhadap konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia mengingatkan bahwa jika perang tidak segera dihentikan, dampaknya bisa mengguncang ekonomi global.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat menghadiri acara Supermentor 28 yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Dalam kesempatan itu, ia berharap perundingan yang tengah berlangsung di Islamabad, Pakistan, dapat menghasilkan kesepakatan damai.
Baca Juga: Sinopsis Film Dilan ITB 1997: Cinta, Idealismenya Mahasiswa, dan Bayang-Bayang Politik Orde Baru
“Mudah-mudahan negosiasi antara delegasi Amerika dan Iran bisa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang,” ujar SBY.
Menurutnya, konflik berkepanjangan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga berimbas luas ke seluruh dunia.
Salah satu sektor yang paling rentan terdampak adalah perekonomian global.
SBY menegaskan bahwa jika situasi terus memburuk, maka stabilitas ekonomi dunia bisa terganggu secara serius.
Ia bahkan menyebut potensi terburuknya adalah kekacauan ekonomi global.
“Kalau perang terus berlangsung seperti ini, semua negara akan terkena dampaknya. Ekonomi dunia bisa berantakan,” tegasnya.
Meski demikian, SBY menyadari bahwa mencapai kesepakatan damai bukan perkara mudah.
Ia menilai proses negosiasi membutuhkan kompromi dari masing-masing pihak, termasuk kesediaan untuk saling mengalah demi kepentingan bersama.
Menurutnya, tidak ada solusi instan dalam konflik sebesar ini. Setiap pihak harus siap mengambil langkah mundur untuk menemukan titik temu yang adil.
Lebih lanjut, SBY juga mengingatkan bahwa meskipun kesepakatan damai berhasil dicapai dalam waktu dekat, pemulihan ekonomi global tidak akan terjadi secara cepat.
Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menstabilkan kembali kondisi ekonomi dunia.
“Kalaupun perang berhenti hari ini, tidak berarti kondisi langsung normal. Perlu waktu untuk memulihkan dan menstabilkan ekonomi global,” jelasnya.
Pernyataan SBY ini menjadi pengingat penting bahwa konflik geopolitik memiliki dampak luas yang tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi stabilitas ekonomi dunia.***




