POJOKSATU.id - Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pandangan mendalam tentang realita perang dan kehidupan prajurit di medan tempur.

Dalam podcast SBY Standpoint, SBY yang juga seorang purnawirawan jenderal TNI mengingatkan bahwa perang bukan sekadar strategi militer atau kekuatan senjata.

Tetapi juga menyangkut sisi kemanusiaan para prajurit yang berada di garis depan.

Baca Juga: SBY Ingatkan Dampak Perang Timur Tengah, Sebut APBN Indonesia Bisa Jebol!

Menurut SBY, tentara bukanlah mesin perang yang bertempur tanpa perasaan. Mereka adalah manusia yang memiliki hati, keluarga, dan harapan hidup.

Karena itu, prajurit tidak akan dengan mudah mengorbankan nyawa mereka jika tidak memahami tujuan dari perang yang dijalankan.

“Soldiers will not fight and die unless they know what they fight and die for,” kata SBY, dikutip Pojoksatu.id dari YT @Susilo Bambang Yudhoyono.

SBY menjelaskan bahwa prajurit pada dasarnya memiliki komitmen kuat untuk membela negara.

Baca Juga: SBY Blak-blakan Soal Perang Iran! Jika Pasukan Darat Masuk, Amerika Belum Tentu Menang

Namun pengorbanan tersebut hanya akan diberikan jika mereka yakin bahwa perang yang dilakukan benar-benar untuk kepentingan bangsa dan negara.

“Kalau dia yakin perang itu memang harus dilakukan untuk negaranya, dia siap mengorbankan jiwa dan raganya,” ujarnya.

SBY menegaskan bahwa keputusan memulai perang tidak boleh diambil secara gegabah oleh para pemimpin politik.

Baca Juga: Bela Khamenei

Sebagai mantan prajurit yang pernah terlibat dalam operasi militer, ia memahami betul betapa mahalnya harga yang harus dibayar dalam sebuah konflik bersenjata.

Menurutnya, setiap perang selalu membawa konsekuensi besar, mulai dari korban jiwa hingga penderitaan keluarga yang ditinggalkan.

SBY mengingatkan bahwa ribuan keluarga bisa kehilangan ayah, suami, atau anak mereka akibat konflik yang berkepanjangan.

Baca Juga: SBY Blak-blakan Soal Perang Iran! Jika Pasukan Darat Masuk, Amerika Belum Tentu Menang

Karena itu, ia menilai perang seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah semua jalur diplomasi tidak lagi memungkinkan.

SBY pun menegaskan bahwa para pemimpin dunia harus berhati-hati sebelum memutuskan untuk memulai konflik bersenjata.

Keputusan yang salah, menurutnya, bisa berujung pada tragedi kemanusiaan yang sangat besar.***