POJOKSATU.ID - Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dunia agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
Dalam pandangan jenderal purnawirawan yang juga dikenal sebagai pemikir diplomasi ini.
Situasi global kini berada di persimpangan berbahaya yang bisa memicu konflik besar.
Bahkan berpotensi menyeret dunia ke ambang Perang Dunia Ketiga jika tidak dikelola dengan bijak.
Baca Juga: 23 Pejabat Baru Dilantik, Andra Soni Ingin Birokrasi Banten Lebih Gesit dan Responsif
Dalam pidato sepanjang 25 menit yang disiarkan secara langsung oleh berbagai media nasional.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan keprihatinannya terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Ia menyoroti sejumlah konflik dan rivalitas antarnegara besar, mulai dari perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga eskalasi kekerasan di kawasan Timur Tengah yang terus memanas.
Baca Juga: Kisah Haru Merlin Siswa SRMA 29 Jayapura, dari Buta Aksara Menuju Harapan
Menurutnya, situasi global saat ini menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Jika ego para pemimpin dunia dibiarkan menguasai panggung diplomasi, bukan tidak mungkin dunia akan terseret ke dalam konflik besar berskala internasional.
Ia menilai kegagalan diplomasi dan komunikasi antarnegara dapat menjadi pemicu utama.
Yang memperparah ketegangan dan menimbulkan efek domino di berbagai kawasan.
SBY juga mengingatkan bahwa pola yang muncul saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi sebelum pecahnya Perang Dunia I dan II.
Pada masa itu, krisis-krisis regional dan persaingan ekonomi antarnegara berubah menjadi perang global.
Akibat lemahnya upaya dialog dan dominasi kepentingan politik sempit.
Ia menegaskan bahwa perang besar tidak pernah terjadi secara tiba-tiba.
Baca Juga: 7 Tips Biar Nongkrong di Cafe Viral Bogor Tetap Hemat, Stylish dan Nggak Kalah Aesthetic!
Melainkan berawal dari kesalahpahaman kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa penyelesaian.
Pidato tersebut menjadi refleksi bagi masyarakat internasional agar tidak mengulangi kesalahan sejarah.
Dalam pandangan SBY, diplomasi dan kerja sama antarnegara harus menjadi fondasi utama dalam menjaga perdamaian dunia.
Tanpa itikad untuk menahan ego dan membangun saling pengertian, dunia modern berisiko terjerumus pada tragedi besar yang seharusnya bisa dihindari.
Baca Juga: HINDARI! 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Keriput Sebelum Waktunya
Di tengah ancaman ketegangan geopolitik, SBY menilai Indonesia punya posisi strategis untuk berperan sebagai jembatan dialog antarnegara besar.
Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan tradisi diplomasi bebas aktif.
Indonesia dinilai mampu menjadi penengah yang kredibel di tengah blok-blok yang saling bersaing.
SBY menegaskan Indonesia harus kembali memainkan peran diplomasi aktif, bukan hanya penonton.
"Kita punya modal moral dan pengalaman panjang dalam menjaga perdamaian dunia” kata SBY, dikutip dari Antara News, 3 November 2025.
SBY mengingatkan bahwa politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,
yang diwariskan sejak era Soekarno dan Soeharto, terbukti mampu menempatkan Indonesia di posisi terhormat di mata dunia.
“Kita pernah jadi tuan rumah perdamaian, dari KAA di Bandung 1955 sampai peran dalam krisis Kamboja dan Palestina. Kini waktunya kita kembali ke jalur itu,” tegasnya.
SBY menekankan bahwa diplomasi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan kekuatan militer.
Baca Juga: Pelanggan 13 Golongan Non-Subsidi Lega: Tarif Listrik Tak Naik Hingga Akhir 2025
Menurutnya, pengaruh sebuah negara di panggung dunia tidak hanya ditentukan oleh persenjataan atau kemampuan perang.
Tetapi oleh sejauh mana negara tersebut mampu menjadi jembatan perdamaian dan motor kerja sama antarbangsa.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam hal soft power yaitu kekuatan lunak
Yang bersumber dari nilai-nilai budaya, kemanusiaan, dan solidaritas antarnegara berkembang.
Baca Juga: 5 Tren Nongkrong di Bogor Tahun 2025! Dari Cafe Estetik sampai Konsep Hidden Spot
Melalui pendekatan ini, Indonesia dapat memainkan peran strategis dalam mendorong stabilitas global tanpa harus bergantung pada kekuatan militer.
Penghormatan dunia, kata SBY, bukan datang dari senjata atau ancaman, melainkan dari kemampuan menjaga perdamaian dan menjadi teladan dalam diplomasi yang beradab.
Sebagai mantan presiden sekaligus mantan jenderal, SBY mengingatkan bahwa wajah perang modern telah berubah drastis.
Konflik global masa kini tidak hanya terjadi di medan tempur.
Tetapi juga merambah ke bidang ekonomi, teknologi, dan informasi.
Persaingan antarnegara bisa diwujudkan dalam bentuk sanksi ekonomi, serangan siber, manipulasi opini publik, hingga dominasi teknologi digital.
Dalam konteks ini, diplomasi modern dituntut untuk lebih adaptif dan cerdas membaca arah perubahan geopolitik.
Peperangan masa kini bisa dimulai dari ruang digital.
Melalui propaganda, peretasan, atau disinformasi, jauh sebelum peluru pertama ditembakkan.
Baca Juga: Judul Penelitian Ditolak? Jangan Panik! 6 Tips untuk Membuat Judul yang Lebih Baik
Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat kapasitas diplomatiknya agar mampu melindungi kepentingan nasional.
Sekaligus berkontribusi aktif dalam menjaga tatanan dunia yang damai dan berkeadilan.
SBY mengajak para pemimpin dunia, terutama mereka yang memegang kekuatan militer dan ekonomi besar.
Untuk menahan diri dan kembali mengedepankan dialog.
Baca Juga: Santai Wajahnya Dibully Warganet, Ashanty: Aku Bangga Sama Kulit Aku yang Sehat!
Ia menyinggung lima negara yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas global seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, dan India.
SBY menegaskan lima negara besar ini harus sadar, tindakan mereka menentukan masa depan dunia.
"Kalau mereka memilih konfrontasi, dunia akan hancur. Tapi kalau mereka memilih dialog, dunia punya harapan,” ujarnya, dikutip dari Detik.com, 3 November 2025.
Seruan SBY agar Indonesia menjadi penengah dunia sejalan dengan posisi pemerintah yang terus mendorong solusi damai di berbagai konflik internasional.
Kementerian Luar Negeri menyebut, diplomasi Indonesia akan tetap berpegang pada prinsip “Bebas Aktif, Humanis, dan Konstruktif”.***




