POJOKSATU.id - Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan bahwa konflik yang memanas di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak serius bagi perekonomian Indonesia.
Dalam podcast SBY Standpoint, SBY menjelaskan bahwa perang di kawasan penghasil energi dunia tersebut bisa memicu lonjakan harga minyak global yang pada akhirnya menekan keuangan negara.
Menurutnya, salah satu dampak paling nyata adalah kenaikan harga minyak dunia yang dapat mengganggu stabilitas fiskal Indonesia.
Baca Juga: Bela Khamenei
“Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar defisit kita ratusan triliun,” kata SBY, dikutip Pojoksatu.id dari YT @Susilo Bambang Yudhoyono.
SBY menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa terjadi karena Indonesia saat ini bukan lagi negara pengekspor minyak, melainkan sudah menjadi negara pengimpor energi.
“Indonesia sekarang ini net importer, lebih banyak membeli minyak dibanding memproduksi,” ujarnya.
Baca Juga: Dana Pendidikan Dipakai untuk Makan Bergizi Gratis, Habiburokhman Sebut 'Itu Sah karena untuk Siswa'
Situasi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama jika konflik Timur Tengah berlangsung lama.
SBY menilai kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam pasokan energi global.
Salah satu jalur vital yang menjadi perhatian dunia adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi minyak dan gas bagi banyak negara.
Baca Juga: SBY Blak-blakan Soal Perang Iran! Jika Pasukan Darat Masuk, Amerika Belum Tentu Menang
Jika konflik semakin meluas dan mengganggu jalur distribusi energi tersebut, maka pasokan minyak global bisa terganggu dan memicu lonjakan harga.
Kondisi tersebut menurut SBY akan berdampak langsung pada anggaran negara.
“Kalau kita terkena beban tinggi ratusan triliun, maka APBN kita akan sangat tertekan,” ujarnya.
SBY menambahkan bahwa pemerintah harus menyiapkan langkah antisipasi sejak dini jika konflik global benar-benar memicu kenaikan harga energi.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi harus mempertimbangkan dampak yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah.
Baca Juga: SBY Blak-blakan Soal Perang Iran! Jika Pasukan Darat Masuk, Amerika Belum Tentu Menang
Menurut SBY, pemerintah perlu menyiapkan strategi fiskal dan kebijakan ekonomi yang tepat agar Indonesia tetap mampu menghadapi tekanan global akibat konflik internasional.
Ia berharap pemerintah dapat melakukan langkah preventif agar dampak perang di Timur Tengah tidak sampai mengguncang stabilitas ekonomi nasional.***




