POJOKSATU.id — Upaya pengendalian demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta turut diarahkan ke Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Kedua wilayah tersebut menjadi perhatian karena karakteristik lingkungan dan kondisi geografisnya dinilai mendukung perkembangan jentik nyamuk.
Beky menyampaikan hal tersebut ketika menghadiri kampanye pencegahan DBD yang digelar di kawasan car free day (CFD) Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu, 27 September 2026.
“Karena memang di wilayah-wilayah tersebut ada banyak apa namanya, struktur tanahnya, air, dan sebagainya itu yang membuat perkembangan jentik-jentik nyamuk menjadi lebih tinggi dibanding wilayah lain,” kata Beky.
Sebagai bagian dari langkah pencegahan, PMI Jakarta mengingatkan warga agar turut melakukan pemberantasan sarang nyamuk mulai dari lingkungan tempat tinggal.
Edukasi tersebut disampaikan melalui kampanye yang mengajak masyarakat menerapkan konsep satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).
Menurut Beky, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman DBD yang masih perlu mendapat perhatian.
“Memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengetahui demam berdarah masih menjadi wabah yang mengkhawatirkan. Karena itu, dalam kesempatan ini kami mengajak kepada seluruh masyarakat Jakarta dengan slogan tadi, satu rumah satu jumantik,” ujar Beky.
Ia berharap keberadaan jumantik di setiap rumah dapat membuat masyarakat lebih aktif memantau kondisi lingkungan sekaligus mencegah munculnya tempat perkembangbiakan nyamuk.
Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan langkah sederhana dan pemeriksaan rutin di sekitar rumah untuk menemukan serta menghilangkan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Dengan demikian kita harapkan masyarakat sadar dan melakukan kegiatan-kegiatan 3M. Ya, 3M plus 1, yaitu kita sama-sama tahu dari mengubur, menguras, dan menutup sumber-sumber air. Karena memang jentik-jentik nyamuk itu berkembang melalui media-media tersebut,” terang Beky.
Upaya memutus siklus perkembangbiakan nyamuk tidak cukup hanya dengan membersihkan bak atau tempat penampungan air.
Warga juga perlu memeriksa berbagai benda di sekitar rumah yang memungkinkan air tergenang dan kemudian menjadi lokasi berkembangnya jentik.
Tempat seperti pot tanaman, ember, talang air, wadah minum hewan, serta barang bekas yang dapat menampung air perlu diperiksa secara berkala.
Penerapan 3M dapat dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mengubur atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.
Di samping menghilangkan lokasi perkembangbiakan nyamuk, masyarakat juga dapat melakukan berbagai langkah untuk meminimalkan risiko terkena gigitan.
Baca Juga: Kendalikan DBD, Pemkot Bandung Bentuk Tim Teknis Penanggulangan Dengue
Penggunaan repelan atau obat antinyamuk sesuai aturan, mengenakan pakaian yang menutup bagian tubuh, memasang kelambu, serta menggunakan kasa pada ventilasi atau jendela dapat menjadi pilihan perlindungan.
Kondisi lingkungan sekitar rumah juga perlu diperhatikan dengan memastikan tidak terdapat wadah maupun area yang menimbulkan genangan air.
Kewaspadaan terhadap nyamuk penular dengue pun tidak hanya diperlukan pada malam hari karena *Aedes aegypti* diketahui dapat aktif menggigit pada siang hari.
Oleh karena itu, perlindungan terhadap gigitan nyamuk dan pemeriksaan lingkungan sebaiknya dilakukan secara konsisten sepanjang hari.
Baca Juga: Kabar Gembira! BPJS Kesehatan Tanggung Penuh Biaya Pengobatan DBD Tanpa Plafon, Warga Wajib Tahu!
Dalam pelaksanaan kampanye tersebut, PMI Jakarta berkolaborasi dengan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) dan melibatkan perwakilan dari 44 puskesmas yang berada di wilayah Jakarta.
Kegiatan itu juga melibatkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang menyediakan pemeriksaan kesehatan secara gratis bagi warga yang mengikuti aktivitas CFD.
Melalui kampanye tersebut, PMI Jakarta mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengetahui cara mencegah DBD, tetapi juga terlibat langsung dalam pemantauan jentik di rumah.
Kebiasaan memeriksa tempat penampungan air dan berbagai lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk secara berkala diharapkan dapat membantu menekan risiko penyebaran DBD sejak dari tingkat keluarga.***




